Harga emas global mengalami tekanan moderat seiring menguatnya sentimen risk-on di pasar keuangan, namun pelemahan dolar AS berhasil membatasi penurunan lebih dalam. Emas (XAU/USD) memangkas kerugian intraday dan diperdagangkan melemah tipis menjelang sesi Eropa, bertahan di bawah level $5.050 sambil berusaha mempertahankan area psikologis $5.000. Tekanan utama berasal dari meredanya ketidakpastian politik global, khususnya setelah hasil pemilu kilat di Jepang memberikan stabilitas politik yang lebih jelas, serta sinyal meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah karena jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran masih terbuka. Kondisi ini mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas, sehingga reli dua hari sebelumnya kehilangan momentum.
Meski demikian, pelemahan harga emas tidak berkembang lebih jauh karena dolar AS menunjukkan tren melemah. Pasar semakin yakin bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga setidaknya dua kali masing-masing 25 basis poin pada tahun 2026. Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter ini secara struktural mendukung aset tanpa imbal hasil seperti emas, karena menurunkan opportunity cost untuk memegang logam mulia. Sentimen terhadap dolar juga terbebani oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi The Fed, menyusul pernyataan Donald Trump yang menyebutkan kemungkinan gugatan terhadap kandidat ketua The Fed pilihannya, Kevin Warsh, jika gagal memangkas suku bunga. Bahkan muncul wacana penyelidikan apabila kebijakan penurunan suku bunga tidak dijalankan, yang semakin menekan kepercayaan pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter AS.
Di sisi lain, pelaku pasar cenderung menahan posisi besar sambil menunggu rilis data ekonomi utama Amerika Serikat pekan ini, termasuk Retail Sales pada Selasa, Non-Farm Payrolls pada Rabu, dan data inflasi CPI pada Jumat. Data-data ini dipandang krusial karena berpotensi menentukan arah pergerakan dolar AS dan harga emas dalam jangka pendek. Ketidakpastian menjelang rilis data tersebut membuat pergerakan harga emas relatif tertahan dalam kisaran sempit.
Dukungan fundamental tambahan bagi emas juga datang dari sisi permintaan resmi. Bank Sentral China, People’s Bank of China (PBOC), dilaporkan melanjutkan pembelian emasnya untuk bulan ke-15 berturut-turut pada Januari. Konsistensi akumulasi cadangan emas ini mencerminkan strategi diversifikasi jangka panjang China terhadap aset berdenominasi dolar AS. Selain itu, terdapat laporan bahwa regulator China mendorong institusi keuangan domestik untuk mengurangi konsentrasi kepemilikan obligasi pemerintah AS. Kebijakan ini berpotensi menjaga daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai dan diversifikasi portofolio, terutama di tengah volatilitas pasar obligasi global yang masih tinggi.
Secara keseluruhan, meskipun harga emas saat ini berada di bawah tekanan sentimen risk-on, kombinasi pelemahan dolar AS, ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, serta permintaan berkelanjutan dari bank sentral memberikan bantalan yang signifikan. Faktor-faktor tersebut menjaga prospek emas tetap konstruktif, terutama jika ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter kembali meningkat dalam waktu dekat.
Sumber : www.newsmaker.id
