Harga Minyak naik hampir satu Dolar per barel pada hari Kamis (21/8) karena Rusia dan Ukraina saling menyalahkan atas proses perdamaian yang mandek, dan karena data AS sebelumnya menunjukkan tanda-tanda permintaan yang kuat di negara konsumen Minyak terbesar tersebut.
Minyak mentah Brent berjangka naik 83 sen, atau 1,2%, ditutup pada $67,67 per barel, tertinggi dalam dua minggu. Minyak mentah West Texas Intermediate berjangka AS naik 81 sen, atau 1,3%, ditutup pada $63,52 per barel.
Kedua kontrak naik lebih dari 1% pada sesi sebelumnya.
Jalan menuju perdamaian di Ukraina masih belum pasti, membuat para pedagang Minyak berhati-hati setelah aksi jual selama dua minggu terakhir di tengah harapan bahwa Presiden AS Donald Trump akan segera merundingkan akhir diplomatik perang Rusia dengan tetangganya.
Baik Moskow maupun Kyiv sejak itu saling menyalahkan karena menghambat proses perdamaian. Rusia pada hari Kamis melancarkan serangan udara besar-besaran di dekat perbatasan Ukraina dengan Uni Eropa, sementara Ukraina mengklaim telah menyerang kilang Minyak Rusia.
Harga Minyak juga didukung oleh penurunan stok Minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan pada minggu lalu, yang menunjukkan permintaan yang kuat.
Stok Minyak mentah AS turun 6 juta barel dalam pekan yang berakhir 15 Agustus, Badan Informasi Energi AS melaporkan pada hari Rabu, sementara para analis memperkirakan penurunan sebesar 1,8 juta barel.
Investor juga menantikan konferensi ekonomi Jackson Hole di Wyoming untuk mendapatkan sinyal tentang kemungkinan penurunan suku bunga The Fed bulan depan. Pertemuan tahunan para bankir sentral dimulai pada hari Kamis, dengan Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan untuk berbicara pada hari Jumat. (Arl)
Sumber: Reuters
Sentimen Geopolitik & Demand AS Kompak Angkat Harga Minyak
