Emas mempertahankan penurunan tiga hari setelah ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve pada Desember melemah. Harga bergerak di sekitar $4.020 per ounce, turun hampir 4% dalam tiga sesi terakhir. Pelaku pasar menahan aktivitas menjelang rilis data ekonomi yang tertunda akibat penutupan pemerintahan AS, sementara sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal penolakan terhadap pemangkasan lanjutan.
Kontrak swap suku bunga kini menunjukkan peluang kurang dari 50% untuk pemangkasan Desember, jauh lebih rendah dibandingkan hampir kepastian pemotongan seperempat poin bulan lalu. Perubahan ini menekan prospek emas yang tidak memberikan bunga dan biasanya menguat saat suku bunga turun.
Laporan tenaga kerja September menjadi fokus utama, dengan data siap dirilis pada Kamis. Meski bersifat lebih mundur dari biasanya, laporan tersebut akan memberikan gambaran penting tentang kondisi ekonomi AS pascapenutupan enam minggu.
Meski terkoreksi baru-baru ini, emas masih menguat lebih dari 50% sepanjang tahun dan menuju kinerja tahunan terbaik sejak 1979. Kekhawatiran fiskal global dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral, termasuk rekor harga di atas $4.380 bulan lalu, terus menopang reli emas.
Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral tetap kuat. Pada September, pembelian diperkirakan mencapai 64 ton, lebih dari tiga kali lipat Agustus. China diperkirakan menambah 15 ton, jauh di atas angka resmi 1,24 ton. Bank sentral disebut terus mendiversifikasi cadangan untuk mengurangi risiko geopolitik dan finansial.
Di sisi lain, investor memantau perselisihan hukum antara Gubernur The Fed Lisa Cook dan pemerintahan Trump terkait tuduhan penipuan hipotek. Mahkamah Agung AS dijadwalkan mendengar argumen kasus tersebut pada 21 Januari.
Pada 10:58 pagi di Singapura, emas turun 0,7% menjadi $4.016,30 per ounce. Indeks Bloomberg Dollar Spot stagnan, sementara perak dan paladium melemah dan platinum sedikit menguat.
Sumber : newsmaker.id
