Harga emas kembali jatuh, memperdalam penurunan terbesarnya dalam lebih dari satu dekade, sementara perak melanjutkan pembalikan tajam setelah reli yang terlalu “panas”. Pada sesi Asia hari Senin, emas spot sempat anjlok hingga 6,3%, sedangkan perak terperosok sampai 11,9%—bahkan sempat berbalik naik lebih dari 3% sebelum kembali dihantam gelombang jual besar. Pergerakan ekstrem ini menegaskan betapa rapuhnya sentimen setelah fase euforia yang terlalu padat posisi beli.
Menurut Robert Gottlieb, pasar belum tentu selesai “membersihkan” ekses yang terbentuk sebelumnya. Likuiditas berpotensi menipis karena pelaku pasar enggan menambah risiko, sehingga pertanyaan kuncinya kini adalah apakah harga mampu menemukan level penopang yang solid. Intinya, posisi long sebelumnya terlalu padat; ketika tren berbalik, efek domino menjadi sulit dibendung dan tekanan jual dapat menyebar cepat di seluruh pasar.
Sebelum kejatuhan ini, logam mulia sempat melonjak ke rekor tertinggi dan mengejutkan banyak pelaku pasar. Reli dipercepat sejak Januari, dipicu kekhawatiran geopolitik, isu pelemahan nilai mata uang, serta pertanyaan atas independensi Federal Reserve. Dorongan tambahan datang dari spekulasi investor Tiongkok yang mengejar tren naik, mempertebal momentum dan volatilitas di pasar emas dan perak.
Arah berikutnya sangat ditentukan oleh perilaku pembeli Tiongkok, khususnya seberapa agresif mereka melakukan strategi “buy the dip”. Harga acuan di Shanghai masih diperdagangkan dengan premi terhadap harga internasional. Menjelang libur Tahun Baru Imlek, aktivitas pembelian dilaporkan ramai di pasar emas terbesar Shenzhen, dengan minat pada perhiasan dan emas batangan. Zijie Wu dari Jinrui Futures Co. menilai volatilitas tinggi dan kedekatan libur Imlek mendorong trader mengurangi posisi, namun penurunan harga justru berpotensi menopang permintaan ritel di puncak musim belanja.
Pemicu utama kejatuhan tajam pada Jumat lalu adalah kabar bahwa Donald Trump akan menominasikan Kevin Warsh untuk memimpin The Fed. Berita ini menguatkan dolar dan merusak sentimen yang sebelumnya bertaruh pada pelemahan dolar di bawah Trump. Warsh dipandang sebagai kandidat paling keras terhadap inflasi, sehingga ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat menguat—kombinasi yang umumnya negatif bagi emas yang dihargai dalam dolar.
Pasar juga sudah berada dalam kondisi rawan ayunan ekstrem. Lonjakan harga sebelumnya dan volatilitas tinggi menekan model risiko serta neraca trader. Goldman Sachs Group Inc. menyoroti gelombang pembelian opsi call yang secara mekanis “mengunci” momentum naik melalui aktivitas lindung nilai; ketika arah berbalik, mekanisme yang sama dapat mempercepat tekanan jual. Hingga Senin sore waktu Singapura, emas turun 4,6% ke $4.671,53 per ons dan perak melemah 7,4% ke $78,86, sementara Bloomberg Dollar Spot Index naik tipis 0,1% setelah melonjak 0,9% pada sesi sebelumnya.
Sumber : www.newsmaker.id
