Harga Minyak Melemah di Tengah Perpanjangan Tenggat Serangan Iran oleh Trump, Ketidakpastian Global Masih Tinggi

Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan setelah Donald Trump memperpanjang tenggat waktu rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran hingga 6 April. Keputusan ini memberikan sedikit ketenangan sementara bagi pasar global, namun sekaligus memperpanjang ketidakpastian konflik yang kini semakin membebani sentimen investor energi. Minyak mentah WTI tercatat turun sekitar 1,6% ke kisaran US$93 per barel setelah sebelumnya melonjak hampir 5%, sementara Brent yang sempat ditutup naik 5,7% di US$108,01 per barel kini menghadapi tekanan koreksi.

Perpanjangan tenggat ini terjadi setelah Iran meminta tambahan waktu selama tujuh hari, namun Amerika Serikat memberikan sepuluh hari, mencerminkan adanya ruang diplomasi meskipun ketegangan belum mereda. Menurut analis dari ING, langkah ini mampu meredakan tekanan jangka pendek di pasar energi, tetapi risiko harga tetap tinggi mengingat sekitar 8 juta barel per hari pasokan global masih terganggu. Kawasan Teluk Persia yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia tetap berada dalam kondisi rawan, sehingga potensi lonjakan harga masih terbuka lebar.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu reli harga minyak sepanjang bulan ini dengan tingkat volatilitas yang sangat tinggi. Penutupan hampir total Selat Hormuz menjadi faktor utama yang membatasi arus energi global. Jalur ini sebelumnya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun berdampak besar terhadap keseimbangan pasar. Dalam pernyataannya, Trump juga mengungkapkan bahwa operasi militer dirancang berlangsung selama 4 hingga 6 minggu dan saat ini berjalan lebih cepat dari jadwal, sementara perpanjangan tenggat memberi waktu tambahan untuk negosiasi dan pengerahan pasukan, termasuk unit Marine Expeditionary Unit.

Analisis dari Macquarie menunjukkan skenario konflik yang terbagi, dengan probabilitas 60% bahwa konflik akan berakhir sebelum akhir Maret, namun terdapat 40% kemungkinan konflik berlanjut hingga akhir Juni. Dalam skenario terburuk, harga minyak bahkan dapat melonjak hingga US$200 per barel, mencerminkan risiko ekstrem yang masih membayangi pasar meskipun ada jeda sementara.

Di sisi Iran, laporan dari Tasnim News Agency menyebutkan bahwa Teheran masih menunggu respons setelah menolak proposal 15 poin dari Amerika Serikat dan mengajukan syarat baru, termasuk pengakuan atas otoritas Iran di Selat Hormuz. Meski kondisi belum stabil, terdapat sedikit peningkatan aktivitas kapal yang terafiliasi dengan Iran dalam 24 jam terakhir, menandakan upaya terbatas untuk menghidupkan kembali jalur distribusi energi.

Trump juga mengklaim bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker melintas sebagai bentuk goodwill, sementara Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan rencana program asuransi untuk mendorong aktivitas pelayaran komersial. Di dalam negeri Amerika Serikat, harga minyak mentah telah melonjak hampir 40% sepanjang Maret, dengan produk turunan seperti diesel dan bahan bakar penerbangan mengalami kenaikan yang lebih tajam. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap kombinasi inflasi yang meningkat dan perlambatan pertumbuhan ekonomi, sebuah dinamika yang berpotensi memperburuk stabilitas ekonomi global dalam waktu dekat.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.