Harga emas kembali mengalami tekanan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu dan mengganggu jalur energi global di Selat Hormuz. Penolakan tersebut langsung memicu kekhawatiran baru di pasar terkait risiko inflasi yang lebih tinggi, terutama akibat potensi kenaikan biaya energi dan distribusi logistik global.
Emas spot diperdagangkan di sekitar US$4.678 per ounce atau melemah sekitar 0,65% setelah sebelumnya mencatat kenaikan hampir 2% sepanjang pekan lalu. Pelemahan ini terjadi karena investor mulai menghitung ulang potensi tekanan inflasi yang dapat bertahan lebih lama di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat pasar memperkirakan bahwa suku bunga tinggi kemungkinan akan dipertahankan lebih lama oleh bank sentral Amerika Serikat.
Situasi geopolitik yang memanas semakin memperbesar ketidakpastian pasar global. Serangan drone yang dilaporkan membakar sebuah kapal kargo di dekat wilayah Qatar pada Minggu lalu menambah kecemasan investor terhadap keamanan jalur perdagangan internasional. Selain itu, Uni Emirat Arab dan Kuwait juga mengklaim berhasil mencegat sejumlah drone yang dianggap sebagai ancaman. Peristiwa tersebut memperkuat persepsi bahwa risiko geopolitik masih jauh dari kata mereda.
Meski emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven, tekanan terhadap logam mulia justru meningkat ketika pasar melihat kemungkinan suku bunga tetap tinggi dalam jangka panjang. Dalam kondisi suku bunga tinggi, aset non-yielding seperti emas menjadi kurang menarik karena investor cenderung beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi seperti obligasi pemerintah AS dan dolar Amerika Serikat.
Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi konsumen Amerika Serikat yang dijadwalkan rilis Selasa waktu setempat. Sebelumnya, inflasi bulan Maret tercatat mengalami kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 2022, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan harga belum sepenuhnya terkendali. Jika data inflasi kembali menunjukkan kenaikan, maka peluang kebijakan moneter ketat dari The Fed akan semakin besar dan dapat menjadi sentimen negatif tambahan bagi harga emas.
Di sisi kebijakan moneter, perhatian investor juga mengarah pada masa akhir jabatan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang diperkirakan berakhir pekan ini. Independensi bank sentral Amerika Serikat kembali menjadi sorotan penting karena pasar menilai arah kebijakan suku bunga ke depan sangat dipengaruhi oleh stabilitas kepemimpinan The Fed.
Sementara itu, data tenaga kerja terbaru Amerika Serikat menunjukkan payroll kembali meningkat pada April dengan tingkat pengangguran tetap berada di level 4,3%. Data tersebut memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama sambil terus memantau perkembangan inflasi dan dampak konflik geopolitik terhadap ekonomi global.
Di pasar lainnya, indeks dolar AS tercatat menguat sekitar 0,1%, yang turut menekan harga emas karena membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Tidak hanya emas, harga perak juga turun sekitar 0,1%, sementara platinum dan palladium ikut bergerak melemah seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pergerakan harga emas saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor safe haven semata, tetapi juga sangat sensitif terhadap ekspektasi inflasi, kebijakan suku bunga The Fed, kekuatan dolar AS, serta dinamika geopolitik global. Selama ketidakpastian terkait inflasi dan konflik Timur Tengah masih tinggi, volatilitas harga emas diperkirakan akan tetap besar dalam jangka pendek.
Sumber : www.newsmaker.id
