Harga perak kembali berada di bawah level US$75 per ounce pada perdagangan Rabu setelah anjlok lebih dari 5% pada sesi sebelumnya. Penurunan tajam ini terjadi ketika pasar kembali memfokuskan perhatian pada meningkatnya risiko inflasi dan kemungkinan suku bunga global bertahan tinggi lebih lama akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Tekanan utama muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam “dua atau tiga hari” apabila Teheran tidak menerima syarat perdamaian dari Washington. Pernyataan tersebut muncul tidak lama setelah Trump mengatakan dirinya membatalkan rencana serangan sebelumnya, sementara isu program nuklir Iran masih menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.
Pernyataan tersebut langsung meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang terus memanas dinilai memperbesar risiko terganggunya pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz masih berada dalam kondisi terganggu dan praktis tertutup bagi sebagian besar lalu lintas pengiriman energi dunia.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak tetap berada di level tinggi dan memperkuat tekanan inflasi global. Ketika harga energi naik, pasar mulai memperkirakan bahwa bank sentral utama dunia kemungkinan akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi. Situasi ini menjadi sentimen negatif bagi logam mulia seperti perak karena instrumen tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga seperti obligasi atau deposito.
Selain faktor geopolitik dan inflasi, perak juga kehilangan dukungan dari sentimen positif sektor teknologi yang sebelumnya sempat mendorong kenaikan harga. Pada awal bulan, optimisme terhadap saham bertema kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sempat meningkatkan prospek permintaan perak untuk kebutuhan infrastruktur pusat data dan komponen teknologi. Namun kini narasi pasar berubah dari tema “pertumbuhan dan AI” menjadi fokus pada “inflasi dan suku bunga,” sehingga minat terhadap aset berisiko mulai menurun.
Perubahan sentimen tersebut membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi global, termasuk perak. Akibatnya, tekanan jual semakin besar dan volatilitas harga meningkat tajam dalam waktu singkat.
Ke depan, arah pergerakan harga perak diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik AS-Iran, kondisi distribusi energi global, serta arah kebijakan moneter bank sentral utama. Jika ketegangan geopolitik terus memicu kenaikan harga minyak dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, maka tekanan terhadap logam mulia berpotensi berlanjut.
Pasar juga akan terus memantau dinamika di Timur Tengah, terutama perkembangan negosiasi diplomatik, stabilitas pengiriman melalui Selat Hormuz, dan perubahan ekspektasi kebijakan suku bunga global. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama volatilitas perak dan logam mulia lainnya dalam beberapa waktu mendatang.
