Indeks dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi enam minggu. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik sekaligus menurunkan tekanan inflasi global.
Indeks dolar AS turun mendekati level 99 setelah investor mulai mengurangi permintaan terhadap aset safe haven. Pasar menilai peluang tercapainya solusi diplomatik di Timur Tengah semakin besar setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington telah memasuki tahap akhir negosiasi dengan Iran.
Pernyataan tersebut memunculkan harapan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini menjadi pusat ketegangan energi global, dapat segera dibuka kembali. Prospek normalisasi distribusi energi dunia langsung memberikan tekanan pada harga minyak dan membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi akibat terganggunya pasokan energi.
Turunnya harga minyak menjadi faktor penting yang mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut oleh bank sentral Amerika Serikat. Ketika tekanan inflasi mulai mereda, pasar cenderung memperkirakan bahwa Federal Reserve tidak perlu terlalu agresif menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat dolar AS kehilangan sebagian daya tariknya.
Meski demikian, risalah rapat terakhir Federal Reserve menunjukkan bahwa mayoritas pembuat kebijakan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan tahun ini apabila inflasi tetap berada di atas target 2%. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa The Fed masih sangat berhati-hati terhadap risiko inflasi yang belum sepenuhnya terkendali.
Saat ini, pasar secara umum masih memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tetap stabil hingga akhir tahun. Namun, pelaku pasar tetap memberikan probabilitas sekitar 50% terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember apabila tekanan inflasi kembali meningkat atau harga energi kembali melonjak akibat perkembangan geopolitik.
Situasi ini mencerminkan keseimbangan yang rapuh antara optimisme diplomatik dan kehati-hatian terhadap inflasi. Di satu sisi, pasar menyambut positif peluang tercapainya kesepakatan AS-Iran yang dapat menstabilkan pasokan energi global. Namun di sisi lain, investor masih menyadari bahwa risiko inflasi belum benar-benar hilang dan arah kebijakan moneter AS tetap sangat bergantung pada perkembangan harga energi serta data ekonomi berikutnya.
Ke depan, arah pergerakan dolar AS akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS-Iran, kondisi distribusi minyak global, dan sikap Federal Reserve terhadap inflasi. Jika Selat Hormuz benar-benar kembali dibuka dan harga energi terus melemah, tekanan terhadap dolar berpotensi berlanjut. Sebaliknya, apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat atau inflasi bertahan tinggi, dolar AS dapat kembali memperoleh dukungan kuat dari ekspektasi suku bunga tinggi dan permintaan aset safe haven.
Sumber : www.newsmaker.id
