Harga emas bergerak terbatas pada perdagangan Asia, Jumat (10 Juli), setelah mencatat kenaikan lebih dari 1 persen pada sesi sebelumnya. XAU/USD diperdagangkan di kisaran US$4.120 per troy ounce dengan kecenderungan melemah tipis karena sebagian investor melakukan aksi ambil untung setelah reli yang terjadi pada perdagangan Kamis.
Pada sesi sebelumnya, harga emas spot melonjak sekitar 1,3 persen hingga mencapai US$4.130,58 per troy ounce. Penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya aksi beli pada saat harga berada di level yang lebih rendah serta bertambahnya permintaan terhadap aset safe haven menyusul kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Meningkatnya risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang menopang harga emas. Ketidakpastian mengenai perkembangan konflik di Timur Tengah membuat sebagian investor memilih mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman. Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat situasi di Selat Hormuz juga terus memberikan dukungan bagi logam mulia.
Namun, ruang kenaikan emas masih terbatas karena pasar tetap mempertimbangkan prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 62 persen bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan September. Ekspektasi tersebut muncul di tengah kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik dapat kembali meningkatkan tekanan inflasi.
Apabila inflasi kembali meningkat, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan membuka peluang pengetatan tambahan. Kondisi tersebut menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil sehingga daya tariknya cenderung berkurang ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat.
Selain itu, prospek penguatan dolar Amerika Serikat juga masih membatasi kenaikan harga emas. Dolar yang kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan global terhadap logam mulia. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang tetap tinggi mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik.
Pergerakan emas saat ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara meningkatnya permintaan aset aman akibat risiko geopolitik dan tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Selama kedua faktor tersebut masih mendominasi pasar, volatilitas harga emas diperkirakan tetap tinggi dengan arah pergerakan yang cenderung terbatas.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah katalis penting yang dapat menentukan arah pergerakan emas berikutnya. Fokus utama akan tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan memberikan gambaran terbaru mengenai tekanan harga di ekonomi terbesar dunia. Selain itu, kesaksian Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di hadapan Kongres pada pekan depan juga akan menjadi perhatian karena berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Dari sisi teknikal, area US$4.100 per troy ounce masih menjadi level support penting yang menentukan arah pergerakan jangka pendek. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk melanjutkan pemulihan masih terbuka. Sebaliknya, apabila level tersebut ditembus ke bawah, tekanan jual berpotensi kembali meningkat.
Sementara itu, area US$4.130 hingga US$4.150 per troy ounce menjadi zona resistensi terdekat yang perlu dilewati agar momentum kenaikan dapat berlanjut. Selama belum mampu menembus area tersebut secara meyakinkan, penguatan harga emas diperkirakan masih akan berlangsung secara terbatas di tengah kombinasi ketidakpastian geopolitik, prospek suku bunga tinggi, dan pergerakan dolar Amerika Serikat yang tetap menjadi faktor utama penggerak pasar.
Sumber : www.newsmaker.id
