Harga Minyak Melonjak, Sengketa Selat Hormuz Kembali Memanaskan Pasar Energi

Harga minyak dunia kembali melonjak setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Eskalasi tersebut memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, terutama setelah kedua negara kembali berselisih mengenai status operasional Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia.

Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$78 per barel setelah mencatat kenaikan lebih dari 5 persen sepanjang pekan sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$74 per barel. Pada pukul 11.19 waktu Singapura, Brent untuk kontrak September menguat sekitar 4,1 persen ke level US$79,15 per barel, sedangkan WTI kontrak Agustus naik 4,2 persen menjadi US$74,40 per barel.

Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya premi risiko geopolitik setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah menyerang puluhan target militer di Iran pada Minggu. Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kapal-kapal internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian karena memiliki peran yang sangat penting dalam distribusi energi global. Jalur laut ini menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dan gas alam dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional. Setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan pasokan energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak.

Situasi semakin memanas setelah Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Bersamaan dengan itu, Teheran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk Yordania dan Qatar. Kuwait juga melaporkan bahwa salah satu anjungan pengeboran lepas pantai mengalami kerusakan akibat serangan yang terjadi di kawasan tersebut.

Rangkaian perkembangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi terganggunya pasokan energi global. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti pada Senin, meskipun jalur pelayaran di sisi selatan yang dikoordinasikan oleh Oman masih tetap beroperasi. Kondisi ini membuat pelaku pasar terus memantau situasi keamanan karena gangguan yang berkepanjangan dapat menghambat distribusi minyak dari kawasan Teluk.

Meningkatnya ketidakpastian geopolitik kembali mendorong premi risiko pada harga minyak. Investor mulai memasukkan kemungkinan terjadinya gangguan pasokan yang lebih luas apabila konflik terus berkembang dan melibatkan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Prospek penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi juga semakin melemah. Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa era kesepakatan sepihak telah berakhir. Iran menuntut Amerika Serikat memenuhi komitmennya terkait Selat Hormuz serta menormalisasi kembali ekspor minyak Iran sebelum proses perundingan dapat dilanjutkan.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat semakin kecil. Selama kedua belah pihak masih mempertahankan posisi masing-masing, risiko eskalasi konflik diperkirakan tetap tinggi dan akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar energi.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa apabila konflik mulai menyasar fasilitas produksi, terminal ekspor, atau infrastruktur energi lainnya di kawasan Teluk, harga minyak berpotensi mengalami kenaikan yang jauh lebih tajam. Dalam skenario tersebut, Brent bahkan dinilai memiliki peluang untuk bergerak menuju level psikologis US$100 per barel apabila gangguan pasokan berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Ke depan, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran, kondisi keamanan di Selat Hormuz, serta respons negara-negara produsen minyak utama terhadap potensi gangguan pasokan. Selama ketidakpastian geopolitik masih mendominasi sentimen pasar, volatilitas Brent dan WTI diperkirakan tetap tinggi dengan kecenderungan bergerak menguat apabila risiko terhadap distribusi energi global semakin meningkat.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.