Serangan AS ke Iran Berlanjut Sembilan Malam Berturut-turut, Ketegangan Timur Tengah Mendorong Lonjakan Risiko Pasar Global

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang semakin intens setelah militer Amerika melancarkan serangan untuk malam kesembilan secara berturut-turut. Rangkaian aksi saling balas tersebut memperlihatkan bahwa ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan terus meluas hingga mengancam stabilitas kawasan, jalur perdagangan energi, serta pasar keuangan global.

Komando Pusat Amerika Serikat (U.S. Central Command) mengumumkan gelombang serangan terbaru pada Minggu bersamaan dengan kabar gugurnya personel militer Amerika Serikat yang ketiga dalam dua hari terakhir. Seorang anggota militer AS di Irak utara dilaporkan tewas ketika berupaya melakukan peledakan terkendali terhadap sebuah drone Iran yang belum meledak. Dalam insiden yang sama, seorang personel lainnya mengalami luka-luka.

Sebelumnya, dua personel militer Amerika Serikat juga dilaporkan tewas di Yordania dalam sebuah serangan yang menurut Washington dilakukan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Serangan tersebut turut mengakibatkan empat anggota militer lainnya mengalami luka-luka, sementara satu personel masih dinyatakan hilang. Dengan bertambahnya korban terbaru, jumlah personel militer Amerika Serikat yang tewas sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari telah mencapai 17 orang.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gelombang serangan terbaru dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap personel militer yang gugur. Ia menegaskan bahwa operasi militer tersebut bertujuan mencegah Iran memperoleh kemampuan nuklir yang dinilai dapat mengancam keamanan regional maupun internasional. Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat kembali melancarkan serangan besar terhadap sejumlah target di Iran pada malam yang sama.

Dalam sepekan terakhir, cakupan serangan dari kedua belah pihak tidak lagi terbatas pada sasaran militer. Infrastruktur sipil dan ekonomi mulai menjadi target, termasuk jembatan, fasilitas utilitas, pelabuhan, hingga infrastruktur energi. Perluasan sasaran ini memperbesar risiko kerusakan terhadap fasilitas vital yang menopang aktivitas ekonomi kawasan serta mengurangi peluang untuk menghidupkan kembali gencatan senjata yang rapuh yang sempat disepakati bulan lalu.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga mengisyaratkan bahwa sejumlah tuntutan terkait program nuklir Iran masih sulit untuk diselesaikan melalui jalur diplomasi. Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa proses negosiasi masih menghadapi hambatan besar, sehingga potensi konflik berkepanjangan tetap tinggi dalam waktu dekat.

Pasar energi langsung merespons perkembangan tersebut. Harga minyak mentah Brent sempat melonjak hampir 4% sebelum memangkas sebagian kenaikannya dan tetap bertahan di atas level US$90 per barel, yang merupakan posisi tertinggi sejak pertengahan Juni. Lonjakan harga mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia apabila konflik terus meluas.

U.S. Central Command menjelaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat ditujukan untuk mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran komersial internasional sekaligus melemahkan kapasitas Korps Garda Revolusi Islam Iran. Jalur pelayaran di kawasan Teluk Persia dan Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena merupakan salah satu koridor distribusi minyak paling penting di dunia.

Kuwait menjadi salah satu negara yang kembali merasakan dampak langsung dari eskalasi konflik tersebut. Kuwait Petroleum Corporation melaporkan bahwa salah satu fasilitas minyak mengalami kerusakan material yang cukup besar sehingga memerlukan proses evakuasi pekerja. Insiden tersebut juga mengakibatkan sejumlah korban luka. Selain itu, dua fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air turut menjadi sasaran serangan yang memicu kebakaran serta menyebabkan kerusakan serius terhadap infrastruktur penting.

Dari perspektif pasar global, meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mempertahankan harga minyak pada level tinggi akibat meningkatnya gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dan serangan terhadap berbagai fasilitas energi. Apabila arus pengiriman kapal tanker dari kawasan Teluk terus mengalami penurunan, maka rantai pasok energi dunia dapat menghadapi tekanan yang lebih besar, sehingga mendorong kenaikan biaya energi dan memicu kembali tekanan inflasi global.

Kondisi tersebut berpotensi membuat bank-bank sentral utama dunia, termasuk Federal Reserve, semakin berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Risiko inflasi yang kembali meningkat dapat memperpanjang periode suku bunga tinggi, sehingga memperkuat posisi dolar Amerika Serikat sebagai aset safe haven. Di sisi lain, aset berisiko seperti pasar saham dan mata uang kripto berpotensi mengalami tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian global, sementara harga emas diperkirakan tetap bergerak volatil karena dipengaruhi oleh tarik-menarik antara meningkatnya permintaan aset lindung nilai dan penguatan dolar AS serta imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.