Ketidakpastian Hormuz Berlanjut, Harga Minyak Tetap Tinggi dan Pasar Waspadai Inflasi AS

Harga minyak dunia bertahan tinggi pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, setelah harapan tercapainya kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz kembali memudar. Minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$87,70 per barel setelah melonjak sekitar 10% dalam empat sesi terakhir, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertahan di atas US$82 per barel. Kenaikan tajam ini menunjukkan bahwa premi risiko geopolitik kembali mendominasi pasar energi global.

Lonjakan harga minyak langsung memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi. Investor mulai menilai bahwa biaya energi yang tinggi dapat mempertahankan tekanan harga lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi mempersulit upaya Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga, terutama ketika ekonomi AS mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Kekhawatiran inflasi tercermin di pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil Treasury AS naik karena pelaku pasar memperkirakan The Fed mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama apabila harga energi terus meningkat. Kenaikan yield biasanya mengurangi daya tarik aset berisiko dan meningkatkan minat terhadap instrumen berbasis dolar.

Di pasar valuta asing, yen Jepang kembali menjadi perhatian utama setelah melemah tajam pada Senin. Pasangan USD/JPY bergerak mendekati area 159,14–159,17, menghapus sebagian penguatan yen yang sebelumnya diperoleh setelah intervensi otoritas Jepang. Pergerakan ini meningkatkan kewaspadaan pasar terhadap kemungkinan tindakan lanjutan dari pemerintah dan bank sentral Jepang apabila pelemahan yen berlanjut.

Kenaikan USD/JPY mencerminkan kombinasi penguatan dolar dan kekhawatiran pasar terhadap perbedaan kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Jepang. Selama imbal hasil AS tetap tinggi dan Bank of Japan mempertahankan kebijakan yang relatif longgar, tekanan terhadap yen cenderung bertahan. Namun, risiko intervensi membuat investor enggan mengambil posisi spekulatif yang terlalu besar terhadap mata uang Jepang.

Ketidakpastian di Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Presiden Donald Trump dikabarkan memperkeras sikap terhadap tuntutan Iran, sementara kejelasan mengenai pembukaan penuh jalur pelayaran masih belum tercapai. Situasi ini membuat pasar semakin skeptis terhadap laporan bahwa kesepakatan dapat segera dicapai.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat memengaruhi pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak dalam waktu singkat. Oleh karena itu, setiap perkembangan diplomatik maupun militer di kawasan Teluk Persia terus menjadi pemicu utama volatilitas pasar energi.

Perhatian investor kini beralih ke data inflasi Amerika Serikat, khususnya Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 12 Agustus 2026. Konsensus memperkirakan inflasi utama bulanan naik sekitar 0,1%, sedangkan inflasi inti diperkirakan meningkat sekitar 0,2%. Data ini sangat penting karena akan memberikan gambaran terbaru mengenai tekanan harga domestik setelah laporan Non-Farm Payrolls sebelumnya menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja.

Pasar saat ini menghadapi dilema yang semakin kompleks. Di satu sisi, pelemahan pasar tenaga kerja AS mendukung pandangan bahwa The Fed dapat menahan suku bunga. Di sisi lain, kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi baru yang dapat memaksa bank sentral mempertahankan sikap hawkish lebih lama.

Jika data CPI menunjukkan inflasi yang melambat, pasar kemungkinan akan semakin yakin bahwa Federal Reserve tidak perlu menaikkan suku bunga pada September. Skenario tersebut dapat menekan dolar dan imbal hasil obligasi, sekaligus mendukung penguatan emas dan pasar saham global. Penurunan tekanan inflasi juga akan membantu memperbaiki sentimen risiko yang sempat terganggu oleh lonjakan harga minyak.

Sebaliknya, jika inflasi AS ternyata lebih tinggi dari perkiraan dan Brent terus mendekati US$90 per barel, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat kembali menguat. Dalam skenario tersebut, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut, imbal hasil obligasi naik, dan aset berisiko seperti saham menghadapi tekanan tambahan.

Bagi pasar emas, hasil CPI akan menjadi penentu penting. Inflasi yang moderat dapat memperpanjang tren penguatan emas karena ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, sedangkan inflasi yang tinggi dapat membatasi kenaikan emas melalui penguatan dolar dan kenaikan yield Treasury.

Secara keseluruhan, pasar global saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap kombinasi faktor geopolitik dan data ekonomi. Ketidakpastian Hormuz menjaga harga minyak tetap tinggi, sementara data inflasi AS akan menentukan apakah Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga atau kembali menghadapi tekanan untuk bertindak lebih agresif. Sampai kedua faktor tersebut memberikan arah yang lebih jelas, volatilitas di pasar minyak, mata uang, obligasi, emas, dan saham diperkirakan akan tetap tinggi.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.