Dolar AS Bertahan di Dekat 100, Pasar Menunggu Data Inflasi Produsen AS

Indeks dolar Amerika Serikat bertahan stabil di sekitar level 99,9 pada perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026, setelah mengalami volatilitas tinggi pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi produsen Amerika Serikat atau Producer Price Index (PPI) Juli untuk memperoleh petunjuk lanjutan mengenai arah tekanan harga dan prospek kebijakan Federal Reserve.

Data Consumer Price Index (CPI) yang dirilis Rabu menunjukkan inflasi konsumen AS melambat untuk bulan kedua berturut-turut menjadi 3,4% secara tahunan. Kenaikan bulanan juga hanya sebesar 0,1%, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Angka tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi mulai mereda dan mengurangi urgensi Federal Reserve untuk segera menaikkan suku bunga.

Setelah rilis CPI, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga September kembali turun. Probabilitas kenaikan sebesar 25 basis poin kini diperkirakan sekitar 40%, turun dari hampir 50% sehari sebelumnya. Penurunan ekspektasi ini membuat dolar kehilangan sebagian dukungan jangka pendek dan menyulitkan indeks dolar untuk membangun momentum kenaikan baru, meskipun masih bertahan dekat level psikologis 100.

Pasar kini menilai data PPI akan menjadi konfirmasi penting apakah perlambatan inflasi konsumen juga tercermin pada tingkat produsen. PPI sering dipantau karena dapat menjadi indikator awal tekanan biaya yang pada akhirnya memengaruhi inflasi konsumen. Jika biaya produsen mulai menurun, peluang penurunan inflasi lebih lanjut akan semakin besar.

Dari sisi kebijakan moneter, hasil PPI akan sangat menentukan nada komunikasi Federal Reserve dalam beberapa pekan mendatang. Inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menghidupkan kembali kekhawatiran bahwa tekanan harga belum sepenuhnya terkendali, sedangkan angka yang lebih rendah akan memperkuat argumen bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga tanpa pengetatan tambahan.

Di luar faktor domestik, ketidakpastian geopolitik masih membayangi pasar valuta asing. Investor terus memantau prospek pembukaan kembali Selat Hormuz, tetapi retorika yang semakin keras antara Amerika Serikat dan Iran membuat peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat semakin kecil. Kondisi ini menjaga risiko harga energi tetap tinggi dan mempertahankan permintaan terhadap aset safe haven.

Kenaikan risiko geopolitik menjadi faktor yang menahan pelemahan dolar lebih dalam. Meskipun ekspektasi suku bunga menurun, dolar masih mendapat dukungan dari statusnya sebagai mata uang safe haven global ketika ketidakpastian meningkat. Selama negosiasi Hormuz belum menunjukkan kemajuan konkret, investor cenderung tetap mempertahankan sebagian posisi pada dolar AS.

Perhatian pasar juga tertuju pada yen Jepang yang kembali mendekati level 160 per dolar. Pelemahan yen memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang dapat melakukan intervensi lagi apabila depresiasi berlanjut. Risiko intervensi membuat perdagangan USD/JPY semakin sensitif terhadap perubahan sentimen global dan pergerakan imbal hasil obligasi AS.

Dari perspektif teknikal, DXY saat ini berada dalam fase konsolidasi atau wait and see. Area 100,0–100,2 menjadi resistance penting yang harus ditembus untuk membuka peluang kenaikan lebih lanjut. Sementara itu, area 99,5 menjadi support terdekat yang perlu dipertahankan agar tekanan jual tidak meningkat.

Jika data PPI lebih panas dari perkiraan, pasar dapat kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve. Dalam skenario tersebut, dolar berpotensi menembus level 100, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik, dan aset berisiko menghadapi tekanan tambahan.

Sebaliknya, PPI yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi bahwa inflasi sedang mendingin. Skenario ini kemungkinan akan menekan dolar, menurunkan imbal hasil Treasury, dan memberikan dukungan tambahan bagi emas serta mata uang utama lainnya seperti euro, yen, dan pound sterling.

Bagi pasar emas, hasil PPI akan menjadi faktor penting berikutnya. Inflasi produsen yang moderat dapat memperpanjang sentimen positif terhadap emas melalui pelemahan dolar dan penurunan yield obligasi, sedangkan inflasi yang tinggi dapat membatasi kenaikan emas karena dolar dan imbal hasil cenderung menguat.

Secara keseluruhan, dolar AS saat ini berada dalam fase menunggu arah baru setelah data CPI yang lebih lunak. Data PPI akan menjadi penentu apakah pasar kembali melihat risiko inflasi dan suku bunga tinggi, atau justru semakin yakin bahwa tekanan harga terus mereda. Hingga data tersebut dirilis, pergerakan dolar kemungkinan tetap terbatas di sekitar level 99,9 dengan volatilitas yang berpotensi meningkat tajam setelah publikasi PPI.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.