Harga Minyak Bertahan di Sekitar US$87, Kebuntuan Hormuz Masih Membayangi Pasar Energi

Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Jumat, 14 Agustus 2026, setelah mengalami penurunan pada sesi sebelumnya. Minyak Brent bertahan di sekitar US$87 per barel setelah terkoreksi sekitar 2,2%, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$81 per barel. Stabilnya harga mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang masih menunggu perkembangan baru terkait upaya pembukaan kembali Selat Hormuz.

Negosiasi antara Iran dan Oman hingga kini belum menghasilkan kesepakatan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Optimisme yang sempat muncul pada awal pekan mulai memudar karena tidak adanya kemajuan konkret. Selain itu, risiko keamanan bagi kapal yang melintas masih dinilai tinggi, sehingga premi risiko geopolitik tetap bertahan dalam harga minyak.

Ketegangan meningkat kembali setelah Abu Dhabi National Oil Co. melaporkan bahwa dua kapalnya diserang pada Kamis malam. Di kawasan Laut Merah, kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengklaim telah menargetkan kilang Jazan di Arab Saudi. Serangkaian insiden tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dan ancaman terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah.

Meskipun demikian, arus minyak dari Teluk Persia belum terhenti sepenuhnya. Sebagian pengiriman masih berlangsung, termasuk melalui kapal tanker yang dilaporkan mematikan transponder mereka selama pelayaran. Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyatakan bahwa sekitar 9 juta barel minyak per hari masih dapat melewati Selat Hormuz dengan pengawalan militer Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut membantu meredakan kekhawatiran mengenai penghentian total pasokan minyak dari kawasan Teluk. Namun, pasar tetap menyadari bahwa kelancaran arus minyak saat ini sangat bergantung pada perlindungan militer dan kondisi keamanan yang sewaktu-waktu dapat berubah.

Dari sisi fundamental, pasokan minyak global masih memberikan dukungan bagi harga. International Energy Agency (IEA) memperkirakan defisit pasar minyak akan melebar pada kuartal berjalan. Bahkan, defisit pasokan untuk tahun 2026 diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir, menandakan bahwa keseimbangan pasar minyak tetap ketat meskipun permintaan global menghadapi tantangan pertumbuhan ekonomi.

Prospek defisit pasokan tersebut membantu menjelaskan mengapa Brent masih mencatat kenaikan lebih dari 4% sepanjang pekan ini. Investor menilai bahwa kombinasi risiko geopolitik dan pasokan yang ketat cukup kuat untuk menjaga harga minyak tetap tinggi dalam jangka pendek.

Kenaikan harga minyak juga kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi global. Energi yang lebih mahal berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan distribusi di berbagai negara. Risiko ini menjadi perhatian khusus bagi bank sentral utama dunia karena dapat memperlambat proses penurunan inflasi dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga.

Bagi Federal Reserve dan bank sentral lainnya, bertahannya harga minyak di kisaran tinggi dapat menjadi hambatan tambahan untuk melonggarkan kebijakan moneter. Jika tekanan energi kembali meningkat tajam, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama dapat muncul kembali dan memengaruhi pasar obligasi, mata uang, dan saham global.

Saat ini pasar minyak berada dalam fase wait and see. Pelaku pasar sedang menimbang antara kebuntuan diplomatik yang mempertahankan premi risiko dan fakta bahwa aliran minyak masih terus berlangsung. Selama tidak ada perubahan signifikan pada kedua faktor tersebut, pergerakan harga kemungkinan akan tetap volatil tetapi belum menunjukkan arah yang jelas.

Dari perspektif teknikal, Brent diperkirakan masih bergerak dalam rentang US$80–US$90 per barel. Area dekat US$90 menjadi resistance penting yang dapat diuji kembali apabila terjadi eskalasi baru di Timur Tengah. Sebaliknya, penurunan menuju area bawah rentang kemungkinan baru terjadi jika muncul kemajuan diplomatik yang nyata terkait pembukaan kembali Hormuz.

Skenario paling bullish bagi minyak adalah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker atau infrastruktur energi, yang dapat mendorong Brent kembali mendekati atau bahkan menembus US$90 per barel. Sementara itu, skenario bearish memerlukan kesepakatan konkret antara Iran dan pihak-pihak terkait mengenai keamanan pelayaran dan normalisasi arus energi melalui Selat Hormuz.

Secara keseluruhan, harga minyak saat ini tetap ditopang oleh kombinasi ketidakpastian geopolitik dan prospek pasokan global yang ketat. Selama kebuntuan Hormuz belum terselesaikan dan risiko keamanan terhadap kapal serta fasilitas energi masih tinggi, Brent kemungkinan akan bertahan pada level yang relatif tinggi dengan volatilitas yang tetap besar dalam beberapa hari mendatang.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.