Harga Emas Mulai September dengan Rebound, Dolar AS Melemah dan Ketegangan AS-Iran Jadi Penopang

Harga emas mengawali perdagangan September 2026 dengan penguatan setelah sebelumnya berada di bawah tekanan jual yang cukup signifikan. Pada perdagangan awal Asia Selasa (1/9/2026), harga emas spot dibuka di sekitar US$4.449,19 per troy ounce dan kemudian bergerak naik menuju kisaran US$4.458, bahkan sempat menyentuh US$4.461,47 per troy ounce. Pergerakan tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 0,2% dibandingkan penutupan sebelumnya dan menjadi indikasi awal munculnya kembali minat beli setelah harga emas mendekati level terendah dalam hampir dua pekan.

Rebound harga emas terjadi ketika investor mulai memanfaatkan penurunan sebelumnya untuk kembali masuk ke pasar. Tekanan jual yang membawa emas mendekati level terendah hampir dua minggu membuka ruang bagi aksi bargain hunting, terutama ketika harga mulai dianggap lebih menarik setelah mengalami koreksi. Dalam kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian, penurunan harga emas tidak serta-merta menghilangkan daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.

Salah satu faktor yang memberikan dukungan terhadap harga emas adalah pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS turun sekitar 0,24% menjadi 99,43 pada perdagangan Senin dan mencatat penurunan bulanan untuk dua bulan berturut-turut. Pelemahan mata uang AS memiliki pengaruh penting terhadap harga emas karena komoditas tersebut diperdagangkan dalam denominasi dolar. Ketika dolar melemah, emas menjadi relatif lebih murah bagi investor yang memegang mata uang selain dolar, sehingga dapat meningkatkan permintaan dan membantu menopang harga.

Pergerakan dolar AS juga menjadi perhatian karena arah mata uang tersebut sangat berkaitan dengan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Setelah pasar sebelumnya mendapatkan sinyal yang cenderung hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh, ekspektasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga pada September kembali meningkat. Pasar kini memperhitungkan probabilitas sekitar 64% hingga 65% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membatasi ruang kenaikan harga emas.

Emas secara historis menghadapi tekanan ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkat. Emas tidak menghasilkan bunga, sehingga kenaikan imbal hasil Treasury dapat meningkatkan biaya peluang memegang logam mulia dibandingkan aset berbasis dolar yang memberikan imbal hasil. Dalam kondisi tersebut, investor dapat mengalihkan sebagian modal ke instrumen pendapatan tetap ketika tingkat imbal hasil dianggap lebih menarik.

Tekanan tersebut terlihat dari imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun yang telah mencapai sekitar 4,768%. Level yield yang tinggi menciptakan tantangan bagi emas untuk mempertahankan momentum kenaikannya. Jika imbal hasil obligasi terus bergerak naik bersamaan dengan menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, tekanan terhadap harga emas berpotensi kembali meningkat dan membatasi upaya logam mulia untuk menembus level psikologis penting di atas US$4.500 per troy ounce.

Di sisi lain, risiko geopolitik kembali memberikan alasan bagi investor untuk mempertahankan eksposur terhadap emas. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat telah mendorong perhatian pasar terhadap risiko keamanan di kawasan Teluk. Serangkaian serangan yang melibatkan kedua negara meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta keamanan jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz.

Meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut juga tercermin pada pasar minyak. Harga minyak mentah Brent kembali menembus US$90 per barel setelah sebelumnya mengalami tekanan. Kenaikan harga minyak memperlihatkan bahwa pasar mulai memasukkan kembali premi risiko geopolitik ke dalam harga energi. Bagi pasar emas, situasi semacam ini dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven karena investor berusaha melindungi portofolio dari potensi gejolak pasar yang disebabkan oleh konflik dan gangguan pasokan energi.

Namun, kenaikan harga minyak juga menghadirkan persoalan tersendiri bagi emas. Minyak yang lebih mahal dapat meningkatkan tekanan inflasi global, terutama apabila gangguan terhadap jalur pengiriman energi berlangsung dalam waktu lama. Inflasi yang kembali meningkat dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Bagi The Fed, tekanan inflasi akibat energi dapat mengurangi ruang untuk pelonggaran moneter dan bahkan memperkuat alasan untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga.

Situasi tersebut membuat prospek harga emas pada awal September berada dalam tarik-menarik antara faktor safe haven dan tekanan dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketegangan AS-Iran, risiko di Selat Hormuz, dan kenaikan harga minyak memberikan dukungan terhadap permintaan emas. Sebaliknya, imbal hasil Treasury yang tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta potensi tekanan inflasi menjadi faktor yang dapat membatasi penguatan.

Perhatian investor kini beralih ke serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini. Data pasar tenaga kerja menjadi sangat penting karena dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan The Fed dalam beberapa bulan ke depan. Pasar khususnya menunggu laporan Nonfarm Payrolls atau NFP yang dijadwalkan dirilis pada Jumat dan diperkirakan menunjukkan penambahan sekitar 55.000 lapangan pekerjaan.

Apabila data NFP berada jauh di bawah ekspektasi, pasar dapat kembali memperkirakan pelemahan kondisi tenaga kerja Amerika Serikat. Skenario tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dan dapat mendorong penurunan imbal hasil Treasury serta dolar AS. Kombinasi tersebut secara historis menjadi lingkungan yang lebih mendukung bagi harga emas.

Sebaliknya, jika data tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi semakin menguat. Imbal hasil Treasury dapat kembali naik dan dolar AS berpeluang mendapatkan dukungan, sehingga emas menghadapi tekanan baru. Karena itu, laporan NFP September menjadi salah satu katalis utama yang dapat menentukan apakah rebound harga emas pada awal bulan ini akan berkembang menjadi tren penguatan yang lebih luas atau hanya menjadi pemulihan sementara.

Pergerakan harga emas di sekitar US$4.450 per troy ounce dengan demikian menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar. Penguatan menuju US$4.461,47 menunjukkan bahwa pembeli mulai kembali muncul setelah koreksi sebelumnya, tetapi harga masih harus menghadapi sejumlah hambatan fundamental sebelum dapat membangun momentum bullish yang lebih kuat. Arah dolar AS, yield Treasury, ekspektasi suku bunga The Fed, data tenaga kerja, serta perkembangan konflik AS-Iran akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan berikutnya.

Memasuki September 2026, harga emas berada dalam kondisi pasar yang sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi ekonomi dan geopolitik. Pelemahan dolar AS dan meningkatnya permintaan aset safe haven memberikan dasar bagi pemulihan harga, sementara yield Treasury yang tinggi dan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve menjadi penghambat utama. Selama ketidakpastian geopolitik tetap tinggi, emas masih memiliki alasan fundamental untuk dipertahankan sebagai aset lindung nilai, tetapi keberlanjutan kenaikannya akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan moneter AS dan data ekonomi yang akan dirilis sepanjang pekan.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.