Harga Emas Kembali di Atas US$4.400, Dolar AS Melemah Beri Dukungan

Harga emas kembali bergerak di atas level US$4.400 per troy ounce pada perdagangan Kamis setelah investor menantikan data inflasi Amerika Serikat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Harga emas spot sempat menguat hingga 0,8%, melanjutkan kenaikan sekitar 1% pada sesi sebelumnya yang sekaligus mengakhiri tekanan selama tiga hari berturut-turut.

Pergerakan harga emas dalam beberapa pekan terakhir cenderung berada dalam rentang yang relatif terbatas. Permintaan emas sebagai instrumen lindung nilai jangka panjang masih menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menjadi hambatan bagi penguatan emas dalam jangka pendek.

Harga emas mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS. Indeks dolar AS memperpanjang penurunannya untuk sesi keempat berturut-turut, sehingga emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik emas dan membantu membatasi tekanan terhadap harga logam mulia.

Selain faktor nilai tukar, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Amerika Serikat dan tingginya beban utang pemerintah juga menjaga minat terhadap emas sebagai aset penyimpan nilai alternatif. Ketidakpastian mengenai kondisi keuangan pemerintah AS dapat mendorong sebagian investor untuk mempertahankan eksposur terhadap aset yang dianggap mampu menjadi pelindung nilai dalam jangka panjang.

Namun, kenaikan imbal hasil obligasi AS masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun kembali meningkat setelah rencana Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali utang pemerintah jangka panjang hingga US$6 miliar tidak memberikan dampak signifikan terhadap pasar obligasi. Kenaikan imbal hasil biasanya memberikan tekanan terhadap harga emas karena emas tidak memberikan pendapatan berupa bunga.

Tekanan terhadap emas juga datang dari kenaikan harga minyak mentah. Harga minyak Brent yang kembali berada di atas US$100 per barel memicu kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi langkah Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga, terutama apabila kenaikan harga energi kembali mendorong inflasi secara lebih luas.

Sejak mengalami pemulihan dari kisaran US$4.000 pada Juli, harga emas sebagian besar bergerak di sekitar US$4.400 per troy ounce. Pergerakan tersebut mencerminkan kehati-hatian pasar karena investor terus menilai kembali arah kebijakan moneter Federal Reserve di tengah perubahan data ekonomi, pergerakan imbal hasil obligasi, nilai tukar dolar AS, serta perkembangan geopolitik global.

Fokus pasar kini beralih pada serangkaian data inflasi Amerika Serikat, termasuk Producer Price Index dan Consumer Price Index. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian penting karena dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan tekanan harga dan membantu investor memperkirakan kemungkinan perubahan kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Pasar saat ini masih memperhitungkan peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga pada September. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membatasi kenaikan harga emas karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil seperti obligasi dibandingkan emas.

Di sisi lain, apabila data inflasi AS menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dapat kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi menekan imbal hasil obligasi dan dolar AS sekaligus memberikan ruang bagi harga emas untuk bergerak lebih tinggi.

Pada perdagangan terakhir, harga emas spot tercatat naik sekitar 0,3% menjadi US$4.411,80 per troy ounce. Sementara itu, harga perak relatif stabil di US$67,30 per troy ounce setelah sebelumnya menguat 2,4%. Harga platinum turun 1,3%, sedangkan paladium bergerak sedikit lebih rendah.

Dengan demikian, arah harga emas dalam jangka pendek masih sangat bergantung pada kombinasi data inflasi AS, pergerakan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta perkembangan geopolitik. Selama dolar AS tetap berada dalam tekanan, emas berpeluang mempertahankan posisinya di atas US$4.400. Namun, kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dapat menjadi penghambat apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.