Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat, 11 September 2026, setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Harga minyak Brent bertahan di dekat US$108 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berhasil menembus level US$103 per barel. Pergerakan ini menunjukkan bahwa risiko geopolitik kembali menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Pada perdagangan pagi di kawasan Asia, minyak Brent untuk pengiriman November naik sekitar 0,5% menjadi US$108,13 per barel. Sementara itu, minyak WTI untuk pengiriman Oktober menguat sekitar 0,6% ke level US$103,05 per barel. Dalam satu pekan terakhir, harga Brent telah melonjak hampir 13%, menempatkannya di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak Juli. Lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak dalam skala yang lebih luas.
Penguatan harga minyak terjadi setelah konflik antara kelompok Houthi di Yaman dan pasukan yang didukung Arab Saudi kembali mengalami eskalasi. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ketegangan militer dapat meluas ke jalur pelayaran strategis yang menjadi bagian penting dari rantai pasokan energi dunia. Investor kini memantau perkembangan konflik secara lebih ketat karena gangguan terhadap jalur pengiriman minyak berpotensi memperburuk tekanan pasokan di pasar global.
Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan memperluas pergerakannya menuju wilayah pesisir di sekitar Selat Bab al-Mandeb. Penguatan posisi di kawasan dekat Mocha dinilai berpotensi meningkatkan kemampuan kelompok tersebut untuk mengganggu lalu lintas kapal yang melintasi salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Selat Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, sehingga gangguan di kawasan ini dapat memengaruhi rute pengiriman minyak dan komoditas energi antara Timur Tengah, Asia, serta Eropa.
Kekhawatiran terhadap pasokan energi juga tetap tinggi karena konflik Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Serangkaian serangan terhadap kapal tanker Iran, gangguan terhadap fasilitas energi Arab Saudi, serta ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan Teluk dan Laut Merah membuat arus distribusi energi Timur Tengah masih jauh dari kondisi normal. Risiko tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa harga minyak Brent dan WTI terus mendapatkan dukungan kenaikan.
Pasar minyak juga menghadapi tekanan tambahan dari meningkatnya permintaan China. Pembelian minyak mentah oleh negara importir minyak terbesar dunia tersebut dilaporkan meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Ketika persediaan minyak global mulai menurun dan tanda-tanda pemulihan permintaan mulai terlihat, gangguan pasokan baru dari Timur Tengah dapat memberikan dampak yang lebih besar terhadap keseimbangan pasar.
Kombinasi antara pasokan yang berisiko terganggu dan permintaan yang menguat menciptakan kondisi yang mendukung kenaikan harga minyak mentah. Jika gangguan pengiriman terus meluas, harga Brent berpotensi kembali mendekati level tertinggi selama periode perang yang sebelumnya berada di atas US$126 per barel. Namun, pencapaian level tersebut akan sangat bergantung pada perkembangan konflik, kemampuan negara-negara produsen menjaga produksi, serta keberlangsungan arus pengiriman minyak melalui jalur pelayaran strategis.
Risiko terhadap keamanan pelayaran juga masih menjadi perhatian utama. Pada 10 September, dua kapal dilaporkan terkena proyektil yang belum teridentifikasi di sebelah barat Khasab, Oman. Insiden tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap kapal komersial masih tinggi, meskipun minyak tetap mengalir keluar dari kawasan Teluk Persia. Bagi pelaku pasar, risiko keamanan pelayaran tidak hanya berkaitan dengan potensi kerusakan kapal, tetapi juga kemungkinan meningkatnya biaya asuransi, perubahan rute pengiriman, serta keterlambatan distribusi energi.
Selat Hormuz menjadi faktor penting lain yang dapat menentukan arah harga minyak dunia. Selat ini merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Apabila gangguan terjadi secara bersamaan di Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz, tekanan terhadap pasokan energi berpotensi meningkat tajam. Kondisi tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak yang lebih agresif karena pasar harus menghadapi risiko gangguan pada dua jalur pengiriman penting sekaligus.
Kenaikan harga minyak Brent hampir 13% dalam sepekan memperlihatkan bahwa pasar mulai memperhitungkan kemungkinan konflik berlangsung lebih lama dan menyebabkan gangguan pasokan yang lebih serius. Pelaku pasar tidak hanya merespons serangan atau insiden yang telah terjadi, tetapi juga mengantisipasi potensi perkembangan berikutnya. Ekspektasi terhadap gangguan pasokan di masa depan dapat mendorong pembelian minyak lebih awal, sehingga memperkuat tekanan kenaikan harga di pasar berjangka.
Meski demikian, kenaikan harga minyak yang terlalu tinggi juga memiliki risiko terhadap keberlanjutan tren penguatan. Harga minyak yang mahal dapat meningkatkan biaya transportasi, produksi industri, serta distribusi barang di berbagai negara. Dalam jangka menengah, tekanan tersebut dapat mengurangi konsumsi bahan bakar dan memperlambat pertumbuhan permintaan energi. Oleh karena itu, meskipun risiko pasokan mendukung kenaikan harga, permintaan yang melemah akibat harga tinggi dapat menjadi faktor pembatas bagi reli berikutnya.
Dari sisi pasar keuangan, lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kenaikan biaya energi dapat memengaruhi harga barang dan jasa, sekaligus memperumit kebijakan bank sentral dalam menentukan arah suku bunga. Jika tekanan inflasi kembali meningkat, ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter dapat menyempit. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi nilai tukar mata uang, pasar saham, serta minat investor terhadap aset berisiko.
Pergerakan harga minyak juga perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi sentimen terhadap perekonomian negara-negara importir energi, termasuk kawasan Asia. China yang sedang meningkatkan pembelian minyak mentah dapat menghadapi kenaikan biaya impor apabila harga energi terus melonjak. Di sisi lain, negara-negara eksportir minyak berpotensi memperoleh keuntungan dari harga jual yang lebih tinggi, meskipun risiko gangguan produksi dan pengiriman tetap menjadi tantangan.
Dengan konflik Houthi-Saudi dan Amerika Serikat-Iran yang terus memanas, prospek harga minyak Brent dan WTI masih memiliki kecenderungan bullish. Brent yang telah mendekati US$108 per barel dan WTI yang menembus US$103 menunjukkan bahwa pasar semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Gangguan terhadap Selat Bab al-Mandeb maupun Selat Hormuz dapat memperkuat tekanan kenaikan, terutama apabila disertai penurunan persediaan minyak global dan peningkatan permintaan dari China.
Namun, arah harga minyak berikutnya tetap akan ditentukan oleh keseimbangan antara risiko pasokan dan kemampuan permintaan global untuk bertahan. Eskalasi konflik yang lebih luas dapat mendorong harga menuju level yang lebih tinggi, sedangkan meredanya ketegangan atau melemahnya konsumsi energi dapat mengurangi tekanan bullish. Untuk saat ini, perhatian pasar minyak dunia tetap tertuju pada perkembangan konflik Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran, serta potensi dampaknya terhadap pasokan energi global.
Sumber : www.newsmaker.id
