Harga Emas Bertahan di US$4.180 saat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda

Harga emas (XAU/USD) bergerak relatif stabil di sekitar US$4.180 per troy ounce, dengan kenaikan sekitar 0,5% dibandingkan sesi sebelumnya. Penguatan terbatas tersebut didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) serta meredanya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat. Meski demikian, harga emas masih berada di jalur penurunan sekitar 2% secara mingguan, menunjukkan bahwa tekanan terhadap logam mulia belum sepenuhnya mereda.

Imbal hasil US Treasury melemah pada perdagangan Kamis setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam 24 tahun. Penurunan yield memberikan ruang bagi harga emas untuk bertahan karena berkurangnya biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Ketika imbal hasil obligasi meningkat, aset berbasis bunga menjadi relatif lebih menarik bagi investor sehingga permintaan terhadap emas cenderung tertekan. Sebaliknya, penurunan yield dapat kembali meningkatkan daya tarik emas, terutama ketika pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.

Pergerakan yield menjadi salah satu faktor penting yang membebani harga emas sepanjang September. Kenaikan imbal hasil obligasi AS sebelumnya berkontribusi terhadap koreksi harga emas sekitar 6% sepanjang bulan tersebut. Kondisi tersebut menunjukkan betapa sensitifnya XAU/USD terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan pasar obligasi, terutama ketika investor menilai kembali seberapa lama The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Sentimen terhadap emas juga membaik setelah Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyampaikan bahwa bank sentral AS membutuhkan lebih banyak waktu untuk menilai apakah kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan. Pernyataan tersebut membantu mengurangi tekanan dari ekspektasi kebijakan moneter yang lebih hawkish. Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober berada di sekitar 27%, turun tajam dari sekitar 70% pada awal pekan.

Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga tersebut menjadi faktor pendukung bagi emas karena suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil sekaligus memperbesar biaya peluang memegang emas. Dengan kemungkinan kenaikan suku bunga yang semakin kecil, sebagian tekanan terhadap XAU/USD berkurang. Namun, perubahan ekspektasi kebijakan The Fed masih sangat bergantung pada data ekonomi AS dan pernyataan para pejabat bank sentral dalam beberapa hari ke depan.

Di sisi lain, risiko inflasi yang berasal dari energi masih menjadi hambatan bagi penguatan harga emas. Harga minyak kembali meningkat di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan terhadap pasokan energi global dapat mendorong harga minyak lebih tinggi dan pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi.

Kekhawatiran pasar juga bertambah setelah muncul laporan mengenai kemungkinan pengerahan tambahan kapal induk serta sekitar 10.000 personel militer AS ke kawasan Teluk. Perkembangan tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap potensi gangguan terhadap jalur distribusi energi. Jika ketegangan geopolitik semakin mengganggu pasokan minyak, lonjakan harga energi dapat memperkuat kembali ekspektasi inflasi dan memengaruhi keputusan The Fed terkait suku bunga.

Dalam kondisi tersebut, arah harga emas menghadapi dua kekuatan fundamental yang berlawanan. Di satu sisi, penurunan imbal hasil US Treasury dan meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga memberikan dukungan bagi XAU/USD. Di sisi lain, dolar AS yang masih relatif kuat serta risiko inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi membatasi ruang penguatan emas.

Kekuatan dolar AS menjadi faktor penting lainnya yang perlu diperhatikan. Emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS sehingga penguatan mata uang tersebut dapat membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kondisi ini berpotensi mengurangi permintaan dan membatasi kenaikan XAU/USD, terutama ketika dolar tetap mendapatkan dukungan dari ketidakpastian ekonomi global dan prospek kebijakan moneter AS.

Dengan demikian, pergerakan harga emas saat ini berada dalam tarik-menarik antara penurunan yield dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih rendah di satu sisi, serta dolar AS yang kuat dan risiko inflasi energi di sisi lainnya. Kombinasi faktor tersebut membuat ruang penguatan XAU/USD masih terbatas meskipun tekanan dari pasar obligasi mulai berkurang.

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada berbagai data ekonomi AS serta pernyataan pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya. Data yang menunjukkan pelemahan aktivitas ekonomi atau meredanya tekanan inflasi dapat semakin mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan dukungan bagi harga emas. Sebaliknya, data ekonomi yang kuat atau tekanan inflasi yang kembali meningkat berpotensi menjaga yield obligasi dan dolar AS tetap tinggi.

Perkembangan konflik di Timur Tengah juga akan menjadi faktor penting bagi pasar emas. Perubahan harga minyak dapat memengaruhi ekspektasi inflasi, kemudian berdampak pada imbal hasil US Treasury dan ekspektasi kebijakan The Fed. Oleh karena itu, arah harga emas selanjutnya tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasar logam mulia, tetapi juga oleh hubungan yang semakin erat antara kebijakan moneter AS, pasar obligasi, dolar AS, harga energi, dan risiko geopolitik global.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.