Harga Emas Naik 5% dalam Sepekan, Cetak Reli Terbesar Sejak Agustus!

Harga emas dunia berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan mingguan terbesar sejak Agustus pada perdagangan Jumat (6 November 2026). Penguatan ini didorong oleh hasil pemilihan paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat yang memicu pelemahan dolar AS serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. Harga emas spot naik 0,4% ke level US$4.098,84 per troy ounce dalam perdagangan pagi di Singapura, dengan kenaikan sepanjang pekan diperkirakan melampaui 5%. Meski demikian, momentum penguatan emas mulai menunjukkan tanda-tanda melambat. Sejumlah investor dilaporkan melepas sebagian kepemilikan emas untuk memperoleh likuiditas dan menutup kerugian dari investasi di pasar saham.

Perubahan sentimen pasar terjadi setelah Partai Demokrat meraih kemenangan dalam pemilu paruh waktu AS. Hasil tersebut memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan penerapan regulasi yang lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Saham-saham teknologi AS mengalami tekanan signifikan pada Kamis setelah investor mengkhawatirkan kemungkinan pemerintah dan Kongres memperketat pengawasan terhadap investasi besar di sektor pusat data atau data center. Tekanan di pasar saham mendorong sebagian investor mengalihkan dana ke obligasi pemerintah AS sebagai aset safe haven. Permintaan yang meningkat terhadap Treasury kemudian menekan imbal hasil obligasi ke level terendah sejak awal September. Namun, dolar AS sempat mengalami penguatan terbatas sehingga membatasi kenaikan harga emas. Penguatan mata uang tersebut membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS.

Di sisi lain, emas memperoleh dukungan tambahan dari meningkatnya harapan terhadap meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kemenangan Partai Demokrat dinilai dapat membuka peluang perubahan arah kebijakan luar negeri Washington, terutama karena Kongres yang dikuasai Demokrat berpotensi mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ketegangan antara kedua negara sebelumnya telah memicu lonjakan harga energi dan memperbesar tekanan inflasi global. Jika konflik mulai mereda, risiko gangguan pasokan energi dapat berkurang sehingga membantu menurunkan tekanan terhadap harga minyak dan biaya produksi. Prospek tersebut turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai di tengah perubahan kondisi geopolitik dan ekonomi global.

Selain faktor geopolitik, potensi hambatan terhadap agenda ekspansi fiskal Presiden Donald Trump juga menjadi perhatian investor. Jika sejumlah rencana peningkatan belanja pemerintah menghadapi penolakan atau pembatasan dari Kongres, pertumbuhan pengeluaran negara dan penambahan utang pemerintah AS berpotensi menjadi lebih terkendali. Kondisi tersebut dapat membantu meredam tekanan inflasi dalam jangka menengah dan memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Ekspektasi terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter menjadi faktor positif bagi emas karena logam mulia tidak menghasilkan bunga. Ketika imbal hasil obligasi menurun dan prospek suku bunga menjadi lebih rendah, biaya peluang untuk memegang emas ikut berkurang sehingga daya tariknya bagi investor cenderung meningkat.

Meskipun prospek emas masih didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan melemahnya dolar, investor tetap berhati-hati menjelang publikasi laporan Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat (6 November 2026). Data ketenagakerjaan tersebut menjadi indikator penting untuk menilai kekuatan ekonomi AS sekaligus memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang. Sebelumnya, jumlah klaim pengangguran mingguan di AS tercatat turun lebih rendah dibandingkan seluruh perkiraan ekonom, menunjukkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih cukup tangguh. Ketahanan pasar tenaga kerja ini dapat menjadi alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama apabila data berikutnya kembali menunjukkan kekuatan ekonomi.

Apabila laporan NFP memperlihatkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi meningkat. Skenario tersebut dapat mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury, sehingga memberikan tekanan terhadap harga emas. Sebaliknya, apabila pertumbuhan tenaga kerja menunjukkan perlambatan, pasar dapat kembali meningkatkan ekspektasi terhadap pelonggaran suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi menekan dolar AS sekaligus memberikan ruang bagi emas untuk melanjutkan penguatannya. Dengan kenaikan mingguan yang diperkirakan melampaui 5%, emas telah mencatatkan performa terbaik sejak Agustus, tetapi keberlanjutan reli selanjutnya masih sangat bergantung pada hasil data ketenagakerjaan AS dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.