Yen Jepang (JPY) kembali kehilangan momentum setelah sempat rebound dari level terendah tiga hari terhadap Dolar AS (USD) yang melemah secara luas. Pada sesi Asia Jumat ini, JPY kembali tertekan, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian politik domestik yang mendorong investor menilai Bank of Japan (BoJ) kemungkinan akan menunda langkah agresif dalam kenaikan suku bunga.
Ketidakpastian politik semakin mencuat seiring spekulasi terkait pengganti Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba. Pasar menilai bahwa penerus Ishiba berpotensi menekan BoJ untuk mempertahankan kebijakan suku bunga rendah. Faktor ini menahan minat beli terhadap JPY meskipun posisi USD sedang melemah.
Selain itu, suasana pasar yang didominasi oleh sentimen risk-on juga turut melemahkan daya tarik Yen sebagai aset safe haven. Walaupun demikian, data makro terbaru dari Jepang masih menunjukkan konsistensi dengan jalur normalisasi kebijakan BoJ. Hal ini membuat para spekulan berhati-hati dalam melakukan aksi jual agresif terhadap JPY, sehingga penurunan Yen diperkirakan akan tetap terbatas.
Sementara itu, Dolar AS justru mengalami tekanan signifikan, jatuh ke level terendah sejak 24 Juli akibat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mengambil langkah pelonggaran kebijakan moneter yang lebih agresif. Kondisi ini memberikan penopang tambahan bagi pasangan USD/JPY untuk tidak mengalami kenaikan yang terlalu tinggi, mengingat prospek jangka pendek Dolar masih dibayangi tren pelemahan.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor ketidakpastian politik di Jepang, kebijakan hati-hati BoJ, dan pergeseran arah kebijakan The Fed menjadi elemen penting yang membentuk arah pergerakan JPY. Meski masih terbebani tekanan eksternal, ruang penurunan Yen tampaknya akan tetap terkendali dalam waktu dekat.
Sumber : newsmaker.id
