Harga minyak global bergerak stabil pada perdagangan Kamis pagi, dengan Brent berada di kisaran $70,20 per barel dan WTI di $68,35 per barel. Pergerakan ini terjadi di tengah lonjakan stok minyak mentah AS sebesar 7,1 juta barel dalam sepekan terakhir—kenaikan terbesar sejak Januari. Di saat yang sama, pasar juga mencermati gelombang baru tarif dari Presiden AS Donald Trump, termasuk bea tinggi terhadap Brasil serta ancaman tarif tambahan atas tembaga dan negara-negara lainnya.
Pasokan Melonjak, Kebijakan AS Tambah Tekanan
Lonjakan pasokan minyak dari AS bersamaan dengan kebijakan proteksionis Washington menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar. Banyak trader percaya bahwa kombinasi kelebihan pasokan dan hambatan perdagangan global dapat menciptakan ketidakseimbangan di pasar energi, khususnya jika permintaan tidak tumbuh sesuai harapan.
Di saat yang bersamaan, keputusan OPEC+ untuk menaikkan produksi secara signifikan pada bulan Agustus menambah lapisan ketidakpastian. Organisasi berharap bahwa lonjakan konsumsi musim panas akan menyerap kelebihan pasokan, namun analis memperingatkan bahwa risiko kelebihan stok bisa kembali menghantui pasar saat permintaan musiman mulai turun pada akhir tahun.
Ketegangan Timur Tengah Menambah Beban
Selain faktor fundamental, harga minyak juga dibayangi oleh risiko geopolitik yang meningkat. Serangan oleh militan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah menewaskan awak kapal dan menyebabkan dua kapal tenggelam. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata rapuh antara Israel dan Iran, memperkuat kekhawatiran akan potensi gangguan suplai di jalur pelayaran strategis.
Ketegangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi di kawasan Teluk dan sekitarnya, yang merupakan jalur vital bagi pasokan energi global. Dalam skenario terburuk, setiap gangguan besar di jalur tersebut dapat mendorong harga minyak melonjak tajam dalam waktu singkat.
Arah Pasar Masih Tertahan, Tapi Risiko Tetap Tinggi
Meski berbagai sentimen negatif terus muncul, harga minyak sejauh ini belum menunjukkan arah yang jelas. Pelaku pasar cenderung menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan tarif AS, perkembangan geopolitik, serta data permintaan global terbaru.
Jika ketegangan geopolitik meningkat dan data menunjukkan stok terus menumpuk, harga minyak berpotensi mengalami tekanan. Namun sebaliknya, bila terjadi pemangkasan produksi atau permintaan global pulih lebih cepat dari prediksi, harga bisa kembali menguat dalam waktu dekat.
Kesimpulan: Waspada Terhadap Volatilitas yang Meningkat
Dalam situasi saat ini, pelaku pasar dan investor energi perlu bersikap waspada terhadap volatilitas jangka pendek. Keseimbangan antara faktor fundamental seperti pasokan dan permintaan serta dinamika eksternal seperti kebijakan perdagangan dan geopolitik akan terus memainkan peran kunci. Stabilitas harga yang tampak saat ini bisa saja berubah drastis seiring berkembangnya situasi global.
Sumber : newsmaker.id
