Harga Minyak Turun Setelah Ultimatum 50 Hari Trump ke Rusia Redakan Kekhawatiran Pasokan

Minyak

Harga minyak global turun pada hari Selasa setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan tenggat waktu 50 hari bagi Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang meredakan ketakutan pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah.

Harga minyak Brent turun 29 sen atau 0,4% menjadi $68,92 per barel pada pukul 03.42 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami penurunan 35 sen atau 0,5%, menjadi $66,63 per barel. Sebelumnya, kedua kontrak telah ditutup lebih dari $1 lebih rendah pada sesi perdagangan sebelumnya.

Analis pasar senior di Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menjelaskan bahwa pernyataan Trump yang cenderung lebih lunak terkait sanksi minyak Rusia mengurangi kekhawatiran akan kekurangan pasokan. Namun, rencana Trump untuk memberlakukan tarif impor tetap menjadi tekanan ekonomi yang signifikan bagi pasar global.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak akibat kabar potensi sanksi terhadap Rusia. Namun, euforia itu mereda setelah tenggat waktu 50 hari diumumkan, memberikan harapan bahwa sanksi masih dapat dihindari. Para pelaku pasar kini fokus pada kemungkinan nyata bahwa AS akan benar-benar memberlakukan tarif tinggi bagi negara-negara yang tetap berdagang dengan Rusia.

Menurut catatan analis ING, jika Trump melaksanakan sanksi tersebut, dampaknya bisa mengubah total lanskap pasar minyak global. Negara-negara besar seperti Tiongkok, India, dan Turki—yang merupakan pembeli utama minyak mentah Rusia—akan dihadapkan pada dilema antara keuntungan dari harga diskon minyak Rusia dan kerugian akibat ekspor mereka yang dikenakan tarif tinggi oleh AS.

Selain sanksi, Trump juga mengumumkan pengiriman senjata tambahan ke Ukraina pada hari Senin. Pada akhir pekan sebelumnya, ia mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 30% terhadap sebagian besar impor dari Uni Eropa dan Meksiko mulai 1 Agustus. Kebijakan ini merupakan lanjutan dari rencana tarif serupa terhadap negara lain, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menekan permintaan bahan bakar secara keseluruhan.

Di sisi lain, permintaan minyak global diperkirakan tetap kuat hingga kuartal ketiga tahun ini. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal OPEC, yang dikutip dalam laporan media Rusia. Menurutnya, keseimbangan pasar minyak akan tetap ketat dalam jangka pendek.

Goldman Sachs, dalam laporan terbarunya pada hari Senin, meningkatkan proyeksi harga minyak untuk paruh kedua tahun 2025. Kenaikan ini didasari oleh potensi gangguan pasokan, penurunan stok minyak di negara-negara OECD, serta kendala produksi yang terus terjadi di Rusia.

Kesimpulan

Pasar minyak saat ini berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Meskipun ultimatum Trump memberi ruang negosiasi yang dapat meredam sanksi terhadap Rusia, risiko tarif impor dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global tetap menjadi faktor yang menekan harga. Di sisi lain, keketatan pasokan dan permintaan yang masih kuat menjaga pasar tetap sensitif terhadap setiap perubahan kebijakan geopolitik dan ekonomi. Pelaku pasar perlu memantau dengan cermat perkembangan dalam beberapa minggu ke depan, karena keputusan politik dapat membawa dampak besar pada arah harga minyak ke depannya.

Sumber : newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.