Harga minyak mentah tetap stabil di kisaran $70 per barel, ditopang oleh permintaan musiman dan rendahnya persediaan di pusat penyimpanan utama. Namun, para analis mulai memperingatkan potensi kelebihan pasokan yang mengancam pasar pada paruh kedua tahun ini.
Sejumlah produsen besar seperti TotalEnergies dan Equinor telah menggarisbawahi peningkatan produksi dari negara-negara OPEC+ serta proyek baru di Norwegia dan Brasil sebagai pemicu utama potensi banjir pasokan global. Kombinasi ini dikhawatirkan akan mendorong ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan dalam skala besar.
Prediksi Surplus Hingga 200 Juta Barel Mengintai Pasar
Lembaga Energi Internasional (IEA) dan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan bahwa suplai minyak global akan melampaui permintaan hingga 2 juta barel per hari pada 2026, menjadi surplus terbesar sejak pandemi COVID-19. Bahkan, mereka memperkirakan akumulasi surplus dapat mencapai 200 juta barel hanya dalam enam bulan terakhir tahun 2025.
Salah satu faktor pendukung surplus ini adalah meningkatnya produksi biofuel. Dengan output biofuel yang terus tumbuh, kompetisi terhadap minyak mentah pun makin tajam, terutama dalam sektor transportasi dan industri energi terbarukan.
Pasar Saat Ini Masih Ketat, Permintaan Masih Kuat
Meskipun ada kekhawatiran jangka menengah, kondisi pasar saat ini masih tergolong ketat. Marjin kilang tetap kuat dan permintaan bahan bakar—terutama avtur—menunjukkan pertumbuhan signifikan. Vitol Group mencatat aktivitas penerbangan global berada pada level tertinggi sepanjang masa, sementara permintaan mingguan minyak di AS mencapai rekor tertinggi sepanjang 2025.
Secara historis, tren menunjukkan bahwa estimasi permintaan seringkali direvisi ke atas. Hal ini membuka kemungkinan bahwa perkiraan surplus bisa jadi lebih kecil dari yang diperkirakan, setidaknya dalam jangka pendek.
Tekanan Turun Harga Minyak Bisa Segera Terjadi
Walaupun IEA masih memproyeksikan permintaan global akan menyentuh rekor 104 juta barel per hari tahun ini, JPMorgan memperingatkan bahwa peningkatan inventaris akan segera terlihat di negara-negara OECD. Lonjakan stok ini belum tercermin dalam harga pasar saat ini, namun jika terjadi, bisa menjadi pemicu utama tekanan penurunan harga minyak mentah.
Bagi pelaku pasar dan investor, penting untuk mencermati dinamika suplai global, terutama dari OPEC+, serta tren permintaan aktual di sektor transportasi dan industri. Ketidakseimbangan struktural antara produksi dan konsumsi dapat mengubah arah harga secara signifikan dalam waktu singkat.
Kesimpulan: Ketegangan Antara Permintaan Kuat dan Ancaman Surplus
Meskipun permintaan global menunjukkan performa solid, risiko kelebihan pasokan tampaknya semakin nyata di horizon. Stabilitas harga minyak mentah di kisaran $70 bisa menjadi rapuh jika pasar mulai mengantisipasi lonjakan stok dan realisasi produksi tambahan. Para pelaku industri energi perlu bersiap menghadapi dinamika pasar yang semakin kompleks, di tengah transisi energi global dan perubahan pola konsumsi pasca-pandemi.
Sumber : newsmaker.id
