Harga emas dunia kembali menguat pada Kamis (31 Juli) setelah mencatat penurunan tajam di sesi sebelumnya, menyusul sikap lebih hati-hati dari Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell terkait prospek pemangkasan suku bunga. Pernyataan Powell yang menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini masih tepat, membuat pelaku pasar meninjau ulang ekspektasi terhadap penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Harga Emas Menguat di Tengah Revisi Ekspektasi The Fed
Emas batangan naik 0,6% ke kisaran USD 3.295 per ons, setelah anjlok 1,6% pada sesi Rabu—penurunan harian terbesar dalam sebulan terakhir. Penguatan ini didorong oleh reaksi pasar yang mulai meragukan kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September mendatang.
Pernyataan Powell bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih kuat dan inflasi tetap di atas target memberi sinyal bahwa The Fed tidak terburu-buru untuk melonggarkan kebijakan moneternya. Ia menekankan, “Masih banyak ketidakpastian yang belum terselesaikan. Rasanya kita belum berada di akhir proses ini.”
Dolar Melemah, Emas Kembali Menarik Minat Beli
Sementara itu, dolar AS kehilangan sebagian penguatan yang diraihnya setelah keputusan The Fed mempertahankan suku bunga. Melemahnya dolar memberikan dorongan tambahan bagi harga emas karena logam mulia tersebut menjadi lebih murah bagi pembeli dengan mata uang lain.
Emas, yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), cenderung tertekan saat suku bunga tinggi karena investor lebih memilih aset yang memberikan return. Oleh karena itu, prospek pelonggaran kebijakan moneter tetap menjadi faktor krusial dalam pergerakan harga emas.
Agenda Tarif Trump dan Gejolak Geopolitik Picu Permintaan Aset Aman
Kebijakan dagang Presiden Donald Trump masih menjadi faktor utama yang mendorong permintaan emas sebagai aset safe haven. Sepanjang tahun ini, harga emas telah melonjak sekitar 25%, bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi di atas USD 3.500 per ons pada April, seiring meningkatnya kekhawatiran atas ketegangan perdagangan dan konflik global.
Trump baru-baru ini mengumumkan kesepakatan dengan Korea Selatan untuk mengenakan tarif sebesar 15% atas ekspor Negeri Ginseng ke AS. Selain itu, ia juga mengancam akan memberlakukan bea masuk minimal 25% terhadap produk-produk dari India, mulai Jumat, bertepatan dengan tenggat waktu negosiasi perdagangan.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian tambahan bagi pasar global dan memperkuat posisi emas sebagai aset pelindung nilai (safe haven).
Pasar Menantikan Data Tenaga Kerja AS sebagai Arah Selanjutnya
Selain dinamika geopolitik, pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data ketenagakerjaan AS untuk Juli yang akan dirilis pada Jumat. Data ini diperkirakan menunjukkan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja dan peningkatan tingkat pengangguran. Hasil laporan tersebut berpotensi menjadi penentu arah kebijakan The Fed ke depan, sekaligus memengaruhi minat terhadap emas.
Kesimpulan
Harga emas menunjukkan ketahanan yang kuat meski menghadapi tekanan dari ekspektasi suku bunga dan penguatan dolar AS. Ketidakpastian kebijakan perdagangan AS serta kondisi geopolitik global terus mendukung permintaan terhadap logam mulia ini. Dalam jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada data tenaga kerja dan sinyal lanjutan dari The Fed untuk menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.
Sumber : newsmaker.id
