Harga Minyak Stabil di Tengah Ancaman Tarif Trump dan Kenaikan Stok Tak Terduga di AS

minyak

Harga minyak mentah dunia tetap stabil pada Kamis (31 Juli) karena pasar mempertimbangkan dua faktor besar yang saling bertolak belakang: potensi kekurangan pasokan akibat langkah agresif Presiden AS Donald Trump terhadap Rusia, dan laporan mengejutkan tentang kenaikan stok minyak mentah di Amerika Serikat.

Harga Minyak Bergerak Tipis, Pasar Cenderung Menunggu

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman September—yang akan berakhir hari ini—tercatat turun tipis 10 sen atau 0,1% menjadi USD 73,14 per barel pada pukul 03.45 GMT. Sementara kontrak Brent yang lebih aktif untuk Oktober juga melemah 14 sen atau 0,2% ke USD 72,33. Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September turun 5 sen atau 0,1% menjadi USD 69,95 per barel.

Kedua benchmark utama ini sempat mencatat kenaikan sekitar 1% pada sesi sebelumnya, tetapi pergerakan hari ini mencerminkan keraguan pasar untuk mengambil posisi yang kuat menjelang tenggat 1 Agustus terkait kebijakan tarif baru yang akan diberlakukan oleh Trump.

Ancaman Tarif Sekunder Picu Kekhawatiran Pasokan

Trump kembali menekan Rusia dengan mengatakan bahwa ia akan menerapkan tarif sekunder sebesar 100% terhadap negara-negara yang tetap berdagang dengan Moskow jika Rusia tidak menunjukkan kemajuan dalam mengakhiri perang di Ukraina dalam 10 hingga 12 hari—jauh lebih cepat dari tenggat sebelumnya yang 50 hari.

Kondisi ini memperkuat kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global. Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menegaskan bahwa ketakutan terhadap tarif sekunder pada negara-negara pengimpor minyak Rusia telah memicu minat beli dari investor yang mengantisipasi pasar akan semakin ketat.

Selain Rusia, Trump juga mengarahkan tekanan besar terhadap Tiongkok, yang merupakan pembeli utama minyak Rusia. Washington telah mengancam akan mengenakan tarif besar terhadap Tiongkok jika negara tersebut tidak menghentikan pembelian minyak dari Moskow.

Sanksi Baru ke Iran Tambah Ketegangan Geopolitik

Tak hanya Rusia, AS juga kembali memperketat tekanan terhadap Iran. Departemen Keuangan AS pada Rabu mengumumkan sanksi baru terhadap lebih dari 115 individu, entitas, dan kapal yang terkait dengan Iran. Langkah ini menyusul serangan udara terhadap fasilitas nuklir utama Iran pada bulan Juni, mempertegas strategi “tekanan maksimum” yang digencarkan pemerintahan Trump.

Kenaikan Stok Minyak AS Tekan Sentimen Positif

Di tengah ketegangan geopolitik yang mendukung harga minyak, laporan mengejutkan dari Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS justru meningkat sebesar 7,7 juta barel dalam pekan yang berakhir pada 25 Juli, sehingga total mencapai 426,7 juta barel. Angka ini sangat berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 1,3 juta barel.

Peningkatan tersebut sebagian besar dipicu oleh turunnya volume ekspor, dan menjadi salah satu faktor penahan harga minyak untuk naik lebih tinggi.

Prospek Harga Masih Belum Pasti

Menurut Priyanka Sachdeva, analis senior di Phillip Nova, pasar saat ini berada dalam posisi menunggu. “Kontrak minyak terjebak dalam pola holding pattern hari ini, bergerak dalam kisaran sempit karena baik pembeli maupun penjual tidak memiliki keyakinan kuat untuk mendorong harga ke arah tertentu, terutama menjelang tenggat 1 Agustus,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa sentimen pasar saat ini terbagi antara dua kekuatan utama: retorika agresif Trump yang bisa memperketat pasar, dan faktor-faktor bearish seperti penguatan dolar AS, lambannya pertumbuhan ekonomi global, serta kenaikan stok minyak yang mengejutkan.

Kesimpulan

Pasar minyak global saat ini berada dalam situasi genting, di mana ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif AS menjadi pemicu utama ketidakpastian. Meski ada potensi kekurangan pasokan, sentimen pasar tetap tertahan oleh data fundamental yang negatif, terutama kenaikan stok minyak di AS. Investor akan terus mencermati langkah Trump dan dinamika geopolitik dalam beberapa hari ke depan untuk menentukan arah pasar selanjutnya.

Sumber : newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.