Dolar Global Goyang, Pasar Sudah Melirik 2026

Photo taken on April 29, 2010 in Paris shows 100 euro and 100 dollar bills. The dollar fell against the euro in volatile trade yesterday, as the market lurched amid the latest moves to ease Europe’s debt crisis and showed little reaction to a Federal Reserve decision to keep rates unchanged. AFP PHOTO / THOMAS COEX / AFP PHOTO / THOMAS COEX

Pasar global memasuki fase baru ketidakpastian ketika dolar AS melemah menjelang libur Thanksgiving, mengarah pada penurunan mingguan terbesar dalam setidaknya empat bulan. Pelemahan ini mencerminkan pergeseran fokus investor: bukan lagi pada tingkat suku bunga saat ini, tetapi pada arah kebijakan moneter hingga 2026. Indeks dolar AS kini turun sekitar 1% dari puncaknya dalam enam bulan terakhir—sebuah tanda bahwa pasar mulai menilai berakhirnya siklus pemangkasan suku bunga global, sementara AS diperkirakan masih melonggarkan kebijakan.

Perubahan nada kebijakan moneter semakin terasa di beberapa bank sentral utama. Bank of Korea mengurangi bias pelonggarannya, menekan harga obligasi dan memicu ekspektasi pasar bahwa ruang penurunan suku bunga semakin terbatas. Di Jepang, mantan anggota dewan Bank of Japan, Asahi Noguchi, kembali menegaskan pentingnya kenaikan suku bunga secara bertahap—gema dari sikap hawkish yang kini lebih sering terdengar dari pembuat kebijakan BoJ. Sementara itu, Reserve Bank of New Zealand secara efektif mengakhiri siklus pemotongannya pada pertemuan terbaru, mendorong dolar Selandia Baru menguat hampir 2% sejak keputusan tersebut.

Proyeksi pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga AS sekitar 90 basis poin hingga akhir 2026. Sebagai perbandingan, Jepang diperkirakan akan memangkas sekitar 75 basis poin dan Selandia Baru sekitar 40 basis poin. Meski tingkat suku bunga keduanya tetap jauh di bawah AS, pasar valuta asing selalu melihat ke depan—arah kebijakan jauh lebih menentukan daripada level suku bunga saat ini. Investor berburu imbal hasil terbaik, dan setiap sinyal perubahan arah kebijakan dapat menjadi pemicu besar pergerakan mata uang.

Di Australia, meningkatnya ekspektasi inflasi mengangkat imbal hasil obligasi tenor 3 dan 10 tahun ke level tertinggi di antara negara-negara G10. Namun dolar Australia masih bergerak dalam kisaran stabil yang bertahan selama 18 bulan terakhir. Pasar menunggu katalis baru, termasuk kemungkinan penguatan tajam yuan Tiongkok yang dapat menjadi pemicu utama berikutnya.

Di Eropa, perhatian investor tertuju pada rilis data kepercayaan konsumen zona euro serta publikasi risalah pertemuan ECB. Kedua hal ini diharapkan memberi petunjuk baru mengenai arah suku bunga di kawasan tersebut. Sementara itu, ketegangan geopolitik kembali memengaruhi pasar komoditas, seiring pelaku pasar mengikuti perkembangan negosiasi perdamaian Ukraina setelah Rusia menolak kemungkinan konsesi besar pasca bocornya percakapan antara penasihat Kremlin dan utusan AS, Steve Witkoff.

Dengan pasar saham dan obligasi AS tutup pada hari Kamis dan hanya buka setengah hari pada Jumat, volatilitas perdagangan akhir pekan diperkirakan ringan. Namun sinyal pergerakan dolar dalam beberapa minggu ke depan tetap menjadi fokus utama, terutama ketika pasar global semakin menatap ke horizon 2026 dan menilai kembali peta besar kebijakan moneter dunia.

Sumber : newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.