Harga Emas Melemah Meski Ketegangan Global dan Isu Pemanasan Dunia Meningkat

Harga emas mengalami pelemahan meskipun tensi geopolitik global terus memanas dan kekhawatiran jangka panjang terhadap perubahan iklim semakin nyata. Pasar saat ini memilih mengabaikan risiko geopolitik dan lebih memusatkan perhatian pada rangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang dianggap akan menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed. Setelah sempat melonjak dan mendekati level US$4.470 per ons troi, didorong kenaikan lebih dari 4% dalam tiga sesi sebelumnya, harga emas berbalik arah karena pelaku pasar bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan kebijakan moneter bank sentral AS.

Berbagai kabar geopolitik sebenarnya cukup signifikan. Pernyataan Donald Trump mengenai potensi penyerahan hingga 50 juta barel minyak Venezuela ke Amerika Serikat, sikap Gedung Putih yang tidak menutup kemungkinan opsi militer terkait Greenland, hingga langkah China yang memperketat kontrol ekspor barang “dual-use” ke Jepang, semuanya mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global. Namun dalam jangka pendek, sentimen pasar emas justru lebih ditentukan oleh satu faktor dominan, yaitu kekuatan dan arah data ekonomi AS.

Perhatian terbesar tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Jumat, terutama setelah indikator manufaktur awal pekan ini menunjukkan hasil yang lebih lemah dari perkiraan. Perlambatan data tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa The Fed masih memiliki alasan kuat untuk memangkas suku bunga. Kondisi ini secara fundamental sebenarnya mendukung harga emas, karena emas sebagai aset lindung nilai tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga cenderung lebih menarik ketika suku bunga turun.

Ekspektasi pemangkasan suku bunga semakin menguat setelah pernyataan pejabat The Fed, Stephen Miran, yang menyebutkan bahwa suku bunga kemungkinan perlu dipangkas lebih dari satu poin persentase hingga 2026 agar roda ekonomi tetap bergerak. Sejarah menunjukkan bahwa kebijakan pelonggaran moneter memiliki dampak besar terhadap logam mulia. Tahun lalu, rangkaian pemangkasan suku bunga mendorong reli emas ke kinerja tahunan terbaik sejak 1979, sementara perak melonjak hampir 150% akibat keterbatasan pasokan dan kekhawatiran terkait tarif impor.

Meski prospek jangka menengah masih cenderung positif, emas menghadapi hambatan teknis dalam jangka pendek. Penyeimbangan ulang indeks komoditas berpotensi memicu aksi jual dari dana pasif yang menyesuaikan bobot portofolio mereka. Estimasi pasar menunjukkan kemungkinan arus keluar yang cukup besar dari kontrak berjangka emas dan perak. Dalam perdagangan terakhir, harga emas tercatat turun 0,6% ke level US$4.466,04 per ons, sementara perak melemah hingga 2,2% dan terakhir berada di kisaran US$79,69 per ons. Logam mulia lainnya seperti platinum dan palladium juga mengalami tekanan, seiring dengan penguatan tipis indeks dolar AS yang menambah beban bagi harga komoditas berbasis dolar.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.