Harga perak kembali melonjak dan berhasil menembus level psikologis penting, memperpanjang tren kenaikan yang telah mencetak rekor dalam beberapa hari terakhir. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven, seiring memburuknya sentimen global. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik, perak menjadi salah satu instrumen yang paling dicari karena dianggap lebih stabil dibandingkan aset berisiko seperti saham dan mata uang berimbal hasil tinggi.
Lonjakan harga perak tidak dapat dilepaskan dari eskalasi ketegangan geopolitik dan perdagangan global. Ketika risiko meningkat, investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang memiliki nilai intrinsik dan daya tahan tinggi terhadap gejolak pasar. Perak, seperti emas, secara historis terbukti mampu menjaga nilai saat volatilitas meningkat, menjadikannya pilihan utama bagi investor yang ingin melindungi kekayaan mereka dari ketidakpastian.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menaikkan tarif terhadap barang-barang asal Korea Selatan. Ancaman ini memicu kekhawatiran akan meluasnya perang dagang, sebuah kondisi yang hampir selalu mendorong arus dana menuju aset lindung nilai. Setiap potensi konflik dagang baru berarti risiko terhadap pertumbuhan global, dan di tengah kondisi tersebut, perak mendapatkan daya tarik yang semakin kuat sebagai pelindung nilai.
Di sisi lain, pasar juga menantikan hasil rapat Federal Reserve minggu ini. Meskipun banyak pihak memperkirakan suku bunga akan tetap, perhatian investor tertuju pada isu independensi bank sentral dan rumor bahwa Trump dapat segera mengumumkan kandidat ketua The Fed yang baru. Ketidakpastian kebijakan moneter ini menciptakan tekanan tambahan pada dolar AS dan pasar obligasi, yang pada akhirnya menguntungkan logam mulia seperti perak.
Perak juga diuntungkan oleh narasi “debasement trade”, di mana investor secara aktif mengurangi kepemilikan obligasi dan mata uang kertas, lalu mengalihkan dana ke aset riil. Kekhawatiran terhadap pembengkakan belanja fiskal di berbagai negara mendorong persepsi bahwa nilai mata uang akan terus tergerus. Dalam kondisi seperti ini, perak dipandang sebagai penyimpan nilai yang lebih aman karena tidak dapat dicetak atau didevaluasi oleh kebijakan pemerintah.
Secara keseluruhan, perak kembali berada dalam fase “panas” yang didorong oleh kombinasi risiko global, drama tarif, dan ketidakpastian kebijakan Amerika Serikat. Selama sentimen politik tetap bergejolak dan tekanan terhadap dolar berlanjut, potensi volatilitas dan kenaikan harga perak masih terbuka lebar, menjadikannya salah satu aset safe haven paling menarik di pasar saat ini.
Sumber : www.newsmaker.id
