Harga Perak Kembali Anjlok Tajam, Turun 8% Tembus di Bawah USD 65

Harga perak kembali mengalami kejatuhan tajam pada Jumat, merosot lebih dari 8% hingga menembus level di bawah USD 65 per ons. Ini merupakan posisi terendah dalam sekitar tujuh minggu terakhir dan terjadi di tengah gelombang aksi jual besar-besaran yang melanda berbagai pasar keuangan global. Tekanan ini tidak hanya mencerminkan pelemahan komoditas, tetapi juga perubahan sentimen investor yang sangat cepat dalam kondisi pasar berisiko tinggi.

Penurunan harga perak kali ini dipicu oleh proses deleveraging di pasar. Banyak pelaku pasar mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, melepas posisi yang sebelumnya dibeli dengan leverage, dan beralih ke aset paling likuid: uang tunai. Ketika posisi leverage dibongkar secara serentak, tekanan jual menjadi semakin agresif dan menciptakan spiral penurunan harga yang sulit dibendung dalam waktu singkat.

Jika ditarik lebih jauh ke belakang, harga perak kini telah jatuh sekitar 45% dari puncaknya pada 29 Januari. Artinya, hampir seluruh kenaikan harga sepanjang tahun ini telah terhapus sepenuhnya. Penurunan sedalam dan secepat ini disebut sebagai salah satu yang paling tajam sejak dekade 1980-an, menjadikan perak sebagai salah satu aset dengan kinerja terburuk dalam periode volatilitas pasar terbaru.

Pada Januari lalu, perak bersama logam mulia lainnya sempat melonjak tajam hingga mencetak rekor tertinggi. Lonjakan tersebut didorong oleh kombinasi faktor besar, mulai dari meningkatnya risiko geopolitik global, ketidakpastian ekonomi, hingga kekhawatiran terkait independensi Federal Reserve Amerika Serikat. Kondisi tersebut memicu permintaan aset safe haven secara masif, dengan perak menjadi salah satu tujuan utama arus modal.

Namun, reli tersebut juga sangat dipengaruhi oleh aksi beli spekulatif, termasuk dari para trader di Tiongkok. Ketika sebuah reli menjadi terlalu panas dan sarat spekulasi, harga menjadi sangat rentan terhadap pembalikan arah secara tajam. Begitu sentimen berubah, pelaku pasar berbondong-bondong keluar dari posisi mereka, menciptakan tekanan jual ekstrem yang mempercepat kejatuhan harga.

Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS yang signifikan. Salah satu pemicu utamanya adalah kabar mengenai pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya. Pasar menilai Warsh memiliki pandangan yang lebih hawkish, sehingga ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat pun menguat. Kondisi ini mendorong dolar AS naik, sekaligus menekan harga logam mulia seperti perak yang umumnya bergerak berlawanan arah dengan kekuatan dolar.

Yang membuat pergerakan harga perak menjadi semakin ekstrem adalah karakter volatilitasnya yang unik. Perak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti pasokan dan permintaan industri, tetapi juga oleh arus spekulatif dalam skala besar. Ketika arus ini berbalik arah, pergerakan harga perak bisa jauh lebih liar dibandingkan logam lainnya. Inilah yang sedang terjadi saat ini, menjadikan perak sebagai cerminan nyata dari betapa cepat dan brutalnya perubahan sentimen di pasar global.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.