Harga minyak dunia kembali melemah seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ketika risiko gangguan pasokan dinilai semakin kecil, pasar dengan cepat melepaskan premi risiko yang sebelumnya menopang kenaikan harga. Perubahan sentimen ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan diplomatik, terutama yang melibatkan negara-negara produsen utama minyak.
Minyak Brent turun mendekati level USD 67 per barel setelah anjlok hampir 4% dalam sepekan terakhir, sementara WTI bertahan di kisaran USD 63 per barel. Pelemahan ini terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat menggelar pembicaraan di Oman untuk meredakan konflik terkait program nuklir Iran. Pemerintah Iran menyebut pertemuan tersebut sebagai “langkah maju”, sementara Donald Trump mengonfirmasi akan ada pertemuan lanjutan dalam waktu dekat. Sinyal diplomasi ini langsung diterjemahkan pasar sebagai berkurangnya potensi eskalasi militer, yang sebelumnya menjadi salah satu pendorong utama harga minyak.
Meski demikian, gambaran besar pasar minyak tetap tidak sepenuhnya sederhana. Sepanjang awal 2026, harga minyak justru sempat menguat meskipun ada kekhawatiran tentang potensi kelebihan pasokan global. Faktor geopolitik dan sejumlah gangguan pasokan, termasuk dari Kazakhstan, telah menahan tekanan turun yang seharusnya lebih besar. Namun, kemajuan dialog antara AS dan Iran pekan lalu mengubah persepsi risiko, membuat pelaku pasar menilai kemungkinan konflik langsung semakin kecil dan mendorong aksi jual.
Di sisi lain, perhatian investor kini tertuju pada arus pasokan ke India, salah satu konsumen minyak terbesar dunia. Trump menyatakan bahwa India telah sepakat menghentikan impor minyak dari Rusia sebagai bagian dari kesepakatan dagang. Namun, pernyataan tersebut belum dikonfirmasi secara langsung oleh New Delhi, yang menegaskan bahwa keamanan energi tetap menjadi prioritas utama. Ketidakpastian ini menciptakan lapisan risiko baru yang membuat pasar tetap gelisah meskipun ketegangan geopolitik mereda.
Pada perdagangan pagi di Asia, minyak Brent kembali melemah sekitar 1% ke level USD 67,35 per barel, sementara WTI turun sekitar 1% menjadi USD 62,92 per barel. Pergerakan ini menegaskan bahwa meskipun tekanan geopolitik berkurang, pasar minyak masih dihadapkan pada kombinasi sentimen yang rapuh antara diplomasi internasional, kebijakan perdagangan, dan dinamika pasokan global yang terus berubah.
Sumber : www.newsmaker.id
