Harga Emas Menuju Penurunan Mingguan Kedua di Tengah Penguatan Dolar dan Lonjakan Harga Minyak

Harga emas global mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Jumat, namun tetap berada di jalur penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Logam mulia ini sempat bertahan di atas level US$5.100 per ounce, tetapi secara keseluruhan masih turun lebih dari 1% sepanjang pekan. Tekanan terhadap emas terutama datang dari penguatan dolar AS serta meningkatnya ekspektasi bahwa suku bunga global, khususnya di Amerika Serikat, akan tetap tinggi lebih lama akibat meningkatnya risiko inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga energi.

Penguatan dolar menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas. Indeks dolar global, yaitu Bloomberg Dollar Spot Index, tercatat naik sekitar 0,4% sepanjang minggu ini. Ketika dolar menguat, harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor internasional, sehingga permintaan cenderung melemah. Kondisi ini sering kali menekan harga emas di pasar global meskipun permintaan lindung nilai terhadap risiko geopolitik tetap ada.

Selain faktor nilai tukar, kenaikan harga minyak juga memainkan peran penting dalam membentuk ekspektasi pasar. Lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat. Situasi ini mendorong investor untuk menilai kembali kemungkinan penurunan suku bunga oleh bank sentral utama, terutama Federal Reserve. Ketika inflasi berpotensi meningkat, bank sentral biasanya lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter, sehingga suku bunga dapat bertahan pada level tinggi lebih lama.

Data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat turut memperkuat pandangan tersebut. Laporan klaim pengangguran mingguan menunjukkan bahwa jumlah klaim tetap relatif rendah, menandakan kondisi pasar tenaga kerja masih kuat. Hal ini memperkuat persepsi bahwa pelonggaran kebijakan moneter belum menjadi kebutuhan mendesak. Di sisi lain, pasar obligasi juga mencerminkan perubahan ekspektasi tersebut. Obligasi pemerintah Amerika atau US Treasury mengalami penurunan harga pada perdagangan Kamis, yang mendorong imbal hasil jangka pendek mencapai level tertinggi sejak Agustus. Kenaikan imbal hasil biasanya menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia ini tidak memberikan bunga atau imbal hasil seperti obligasi.

Pelaku pasar kini memperkirakan hampir tidak ada peluang penurunan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve minggu depan. Bahkan, probabilitas penurunan suku bunga sepanjang tahun ini diperkirakan hanya sekitar 70%. Kenaikan biaya pinjaman yang berkepanjangan biasanya menekan harga emas karena investor lebih tertarik pada aset yang memberikan imbal hasil.

Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga memengaruhi dinamika pasar emas dalam beberapa minggu terakhir. Secara tradisional, emas dikenal sebagai aset safe-haven yang diminati saat ketidakpastian meningkat. Namun dalam situasi volatilitas tinggi, sebagian investor justru menjual emas untuk menutup kebutuhan margin pada aset lain yang mengalami tekanan. Hal ini membuat pergerakan harga emas menjadi lebih fluktuatif dan tidak selalu bergerak naik meskipun ketegangan geopolitik meningkat.

Meski demikian, performa emas sepanjang tahun ini masih tergolong kuat. Harga emas tercatat naik sekitar 18% sejak awal tahun dan tetap bertahan di atas ambang psikologis US$5.000 per ounce. Level tersebut menjadi indikator penting bahwa permintaan terhadap logam mulia sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global masih cukup solid.

Risiko utama yang kini diperhatikan pasar adalah kemungkinan konflik berkepanjangan yang menjaga harga minyak tetap tinggi. Jika harga energi terus melonjak, tekanan inflasi global dapat meningkat sehingga bank sentral harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi logam mulia dalam jangka menengah.

Menurut International Energy Agency, konflik di Timur Tengah telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Sebagai respons, negara-negara anggota lembaga tersebut sepakat untuk melepaskan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka, sebuah langkah yang menjadi pelepasan cadangan terbesar yang pernah dilakukan secara terkoordinasi.

Pada pukul 08:05 pagi waktu Singapura, harga emas spot tercatat naik sekitar 0,4% menjadi US$5.099,98 per ounce. Logam mulia lainnya juga mengalami kenaikan moderat. Harga perak naik 0,4% menjadi US$84,18 per ounce, sementara platinum dan palladium turut menguat seiring meningkatnya volatilitas di pasar komoditas.

Ke depan, pasar akan terus memantau beberapa faktor utama yang berpotensi mempengaruhi pergerakan harga emas. Arah pergerakan dolar AS, perubahan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika menjelang pertemuan Federal Reserve, serta perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah akan menjadi indikator penting bagi investor. Selain itu, dampak konflik terhadap harga energi dan ekspektasi inflasi global juga akan memainkan peran krusial dalam menentukan arah pasar logam mulia dalam waktu dekat.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.