Harga Perak Bangkit di Atas $74,2 di Tengah Meredanya Ketegangan Timur Tengah dan Tekanan Minyak

Harga perak kembali menunjukkan penguatan signifikan dengan menembus level $74,2 per ounce pada perdagangan Rabu (6 Mei), setelah sempat mengalami pelemahan di awal pekan. Kenaikan ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan didorong oleh kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik yang mulai berubah arah. Penurunan harga minyak mentah menjadi katalis utama yang meredakan kekhawatiran inflasi global, sehingga memberikan ruang bagi aset safe haven seperti perak untuk pulih dalam jangka pendek.

Dari sisi geopolitik, sinyal de-eskalasi di kawasan Timur Tengah menjadi faktor krusial yang mempengaruhi sentimen pasar. Pernyataan pejabat tinggi Amerika Serikat yang menegaskan bahwa gencatan senjata masih berlangsung serta penghentian operasi ofensif memberikan indikasi bahwa risiko gangguan pasokan energi global mulai mereda. Fokus kebijakan yang bergeser ke pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz turut memperkuat persepsi bahwa stabilitas distribusi energi akan tetap terjaga dalam waktu dekat. Hal ini secara langsung menekan harga minyak, yang sebelumnya sempat melonjak akibat ketegangan konflik.

Selain itu, keputusan untuk menghentikan sementara upaya bantuan terhadap kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz mencerminkan adanya ruang diplomasi yang sedang diupayakan antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, pasar tetap berhati-hati karena blokade terhadap aktivitas pelayaran dari dan menuju pelabuhan Iran masih diberlakukan. Artinya, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang dan masih berpotensi memicu volatilitas jika situasi kembali memanas.

Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan harga perak menunjukkan korelasi yang cukup kuat dengan dinamika harga energi. Ketika harga minyak meningkat, tekanan inflasi cenderung ikut naik, mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia, termasuk perak, karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan opportunity cost untuk memegang aset non-yielding. Sebaliknya, ketika harga minyak melemah, tekanan inflasi berkurang dan ekspektasi suku bunga menjadi lebih longgar, menciptakan momentum positif bagi perak.

Meski rebound saat ini memberikan sinyal pemulihan, arah pergerakan harga perak masih sangat bergantung pada perkembangan global yang dinamis. Setiap perubahan dalam situasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar. Selain itu, arah kebijakan suku bunga global tetap menjadi faktor penentu utama yang akan mempengaruhi daya tarik perak sebagai instrumen investasi.

Dengan demikian, kenaikan harga perak di atas $74,2 bukan hanya refleksi dari faktor teknikal semata, tetapi juga hasil dari pergeseran fundamental yang kompleks. Investor perlu mencermati perkembangan harga minyak, stabilitas geopolitik, serta arah kebijakan moneter global untuk memahami potensi pergerakan perak ke depan.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.