Harga emas bergerak dalam kisaran sempit dan diperdagangkan di sekitar US$4.537 per ounce, hampir tidak berubah dibandingkan pekan sebelumnya. Pergerakan yang terbatas ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang terus memantau perkembangan negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakjelasan arah diplomasi membuat investor cenderung menahan posisi sambil menunggu kepastian baru terkait stabilitas geopolitik global.
Laporan dari Iranian Students News Agency menyebutkan bahwa Teheran telah memberikan respons terhadap dokumen yang diajukan Amerika Serikat, yang dikabarkan berhasil mempersempit sejumlah perbedaan penting. Namun, optimisme pasar langsung tertahan setelah laporan Reuters mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menginstruksikan agar uranium mendekati tingkat senjata tidak dikirim ke luar negeri. Pernyataan tersebut memicu kenaikan sementara harga minyak dan kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah Presiden Donald Trump menyampaikan penolakan terhadap rencana Iran dan Oman untuk membangun jalur permanen di kawasan Hormuz. Pernyataan yang saling bertolak belakang dari berbagai pihak memperlihatkan bahwa proses negosiasi masih berada dalam fase rapuh dan belum menunjukkan arah yang benar-benar jelas menuju kesepakatan damai. Situasi ini membuat pasar keuangan global bergerak lebih defensif, terutama pada aset safe haven seperti emas.
Bagi pelaku pasar emas, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru bahwa Federal Reserve dan bank sentral utama lainnya kemungkinan harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik dinilai berpotensi kembali mendorong inflasi global. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, emas biasanya kehilangan daya tarik karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga seperti obligasi atau instrumen berbasis suku bunga lainnya.
Strategis TD Securities, Ryan McKay, menilai kebuntuan situasi geopolitik dan ekspektasi kebijakan moneter agresif telah mengurangi minat investor terhadap emas maupun logam mulia lainnya. Dalam skenario terbaru, Commodity Trading Advisors (CTA) diperkirakan dapat memangkas hampir seluruh posisi net long emas apabila harga turun menuju level US$4.350 per ounce. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual masih berpotensi meningkat apabila sentimen pasar semakin negatif.
Sejak konflik awal pecah, harga emas memang cenderung bergerak dalam pola konsolidasi setelah mengalami penurunan tajam. Kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kekhawatiran inflasi tinggi dengan prospek perlambatan ekonomi global. Investor saat ini menghadapi dilema antara potensi kenaikan suku bunga lanjutan dan risiko pertumbuhan ekonomi yang melemah akibat tekanan energi yang terus meningkat.
Sementara itu, logam mulia lain seperti perak, platinum, dan palladium tercatat bergerak relatif stabil. Indeks Bloomberg Dollar Spot juga menunjukkan pergerakan datar, menandakan pasar mata uang belum menemukan katalis kuat untuk menentukan arah baru. Stabilitas dolar AS turut membuat pergerakan emas tertahan karena keduanya memiliki hubungan yang saling memengaruhi dalam perdagangan global.
Dalam jangka pendek, arah harga emas diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, pergerakan harga minyak dunia, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Selama ketidakpastian geopolitik dan inflasi energi masih bertahan, volatilitas pasar logam mulia diperkirakan tetap tinggi meskipun harga emas untuk sementara bergerak stagnan.
