Harga Minyak Dunia Naik Setelah Serangan Balasan AS ke Iran, Pasar Khawatir Gangguan Pasokan Global

Harga minyak dunia kembali menguat pada Rabu, 10 Juni 2026, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap target-target Iran sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache militer AS di perairan Oman. Kenaikan harga ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global di tengah memanasnya kembali ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat distribusi minyak dunia.

Minyak mentah Brent sempat melonjak hingga lebih dari 2% dan menembus level US$93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik hingga menyentuh US$90 per barel. Meskipun sebagian kenaikan tersebut berkurang setelah pemerintah Amerika Serikat mengumumkan berakhirnya operasi balasan yang berlangsung singkat, sentimen pasar tetap didominasi oleh kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dari kawasan Teluk Persia.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons yang proporsional terhadap tindakan yang disebut sebagai agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan. Dalam operasi presisi tersebut, militer AS menargetkan sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan radar pengawasan yang berada di sekitar Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis ini memiliki peran vital dalam perdagangan energi global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah menuju pasar internasional.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone yang menargetkan Armada Kelima Amerika Serikat yang berbasis di Bahrain. Selain itu, sejumlah fasilitas militer Amerika di Yordania dan Kuwait juga dilaporkan menjadi sasaran serangan. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa kedua pihak masih mempertahankan sikap tegas, sehingga meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak langsung terhadap pasar energi global.

Ketegangan terbaru ini menjadi ancaman bagi gencatan senjata yang masih rapuh di kawasan Timur Tengah. Upaya negosiasi damai jangka panjang yang selama ini diharapkan mampu meredakan konflik juga menghadapi tantangan baru akibat meningkatnya aktivitas militer dari kedua belah pihak. Meski demikian, sejumlah analis energi menilai pasar masih memperoleh sedikit ketenangan karena serangan yang terjadi sejauh ini dianggap bersifat terbatas dan belum berkembang menjadi konflik berskala penuh.

Harapan bahwa jalur diplomasi masih terbuka menjadi salah satu faktor yang menahan lonjakan harga minyak agar tidak bergerak lebih agresif. Investor terus memantau perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran karena setiap indikasi eskalasi lebih lanjut berpotensi mendorong harga energi ke level yang lebih tinggi dalam waktu singkat.

Selain faktor geopolitik, pasar minyak juga mendapat tekanan tambahan dari menurunnya cadangan minyak mentah Amerika Serikat. Data terbaru dari American Petroleum Institute menunjukkan bahwa persediaan minyak AS mengalami penurunan sebesar 9,1 juta barel pada pekan lalu. Angka tersebut menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir dan memperkuat indikasi bahwa pasokan minyak global sedang berada dalam kondisi yang semakin ketat.

Penurunan stok minyak tersebut terjadi ketika pasokan global masih dibayangi gangguan akibat konflik di kawasan Teluk Persia serta pembatasan transportasi melalui Selat Hormuz. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan minyak dunia mungkin tidak mampu mengimbangi permintaan apabila situasi geopolitik terus memburuk.

Pada perdagangan siang hari di Singapura, minyak Brent untuk pengiriman Agustus tercatat naik 0,6% menjadi US$92,04 per barel. Sementara itu, WTI untuk pengiriman Juli juga menguat 0,6% ke level US$88,74 per barel. Penguatan ini menandai pemulihan sebagian setelah harga minyak sempat anjlok sekitar 3% pada sesi sebelumnya.

Pergerakan harga minyak saat ini menunjukkan bahwa pasar global masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Selama ketidakpastian mengenai keamanan jalur distribusi energi dan stabilitas kawasan masih berlangsung, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi. Investor dan pelaku pasar akan terus mencermati setiap perkembangan konflik, terutama yang berkaitan dengan Selat Hormuz, karena wilayah tersebut memegang peranan penting dalam menjaga kelancaran pasokan energi dunia.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.