Harga minyak dunia tetap bertahan pada level tinggi dalam perdagangan Jumat (24/7), dengan minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$100 per barel setelah mencatat lonjakan tajam pada sesi sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak relatif stabil di kisaran US$92 per barel. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global akibat memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh serangan kelompok Houthi terhadap kapal-kapal tanker di Laut Merah. Insiden tersebut meningkatkan risiko terganggunya jalur pelayaran energi internasional yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dunia. Di tengah konflik yang terus meningkat antara Amerika Serikat dan Iran, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan yang lebih luas apabila serangan terhadap kapal komersial terus berlanjut.
Kontrak minyak Brent untuk pengiriman September diperdagangkan di level US$100,82 per barel setelah melonjak sekitar 7% pada sesi sebelumnya. Sepanjang pekan ini, harga Brent telah menguat sekitar 14%, menunjukkan besarnya premi risiko geopolitik yang mulai tercermin dalam harga minyak. Di sisi lain, WTI bertahan di sekitar US$92,50 per barel, didukung oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan energi global.
Risiko terhadap pasokan minyak tidak hanya berasal dari Laut Merah. Pasar juga mencermati serangan terhadap terminal Caspian Pipeline Consortium di pesisir Laut Hitam Rusia. Terminal tersebut merupakan jalur ekspor utama bagi minyak Kazakhstan menuju pasar internasional. Gangguan pada infrastruktur penting ini memperbesar kekhawatiran bahwa pasokan minyak global akan semakin ketat, terutama ketika produksi dan distribusi dari Timur Tengah juga menghadapi tekanan.
Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi militer besar-besaran terhadap Iran dan kelompok Houthi apabila mereka terus menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan melibatkan lebih banyak wilayah strategis yang menjadi pusat produksi maupun distribusi energi dunia.
Sebagai respons, Iran memperingatkan bahwa mereka akan membalas dengan menargetkan fasilitas-fasilitas energi di kawasan apabila serangan Amerika Serikat terus meningkat. Ancaman tersebut menambah kekhawatiran pasar karena serangan terhadap infrastruktur energi dapat mengganggu produksi, penyimpanan, hingga distribusi minyak secara signifikan. Situasi ini membuat pelaku pasar semakin berhati-hati dalam memperkirakan kondisi pasokan energi dalam beberapa bulan mendatang.
Selama gangguan pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz masih berlangsung, harga minyak diperkirakan akan tetap berada dalam tren penguatan. Kedua jalur tersebut merupakan rute strategis bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Setiap hambatan terhadap arus pelayaran di kawasan tersebut dapat secara langsung mengurangi pasokan minyak yang tersedia di pasar internasional.
Apabila konflik semakin memburuk dan aktivitas pelayaran di Laut Merah mengalami pembatasan yang lebih ketat, harga minyak Brent berpotensi melanjutkan kenaikan menuju kisaran US$110 per barel. Bahkan, jika gangguan distribusi berlangsung lebih lama dan berdampak signifikan terhadap pasokan global, Brent memiliki peluang untuk menembus level US$120 per barel.
Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan juga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Biaya energi yang lebih tinggi dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa, sehingga memperbesar kemungkinan bank-bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat menekan pasar saham, meningkatkan volatilitas di pasar keuangan, memperkuat dolar Amerika Serikat sebagai aset safe haven, serta memengaruhi pergerakan harga emas dan berbagai komoditas lainnya.
Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek masih akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Selama risiko terhadap jalur pelayaran dan infrastruktur energi belum mereda, pasar diperkirakan akan tetap memberikan premi risiko yang tinggi terhadap harga minyak, sehingga volatilitas di pasar energi global berpotensi terus meningkat.
