Harga minyak dunia kembali melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan Teheran sedang melakukan pembicaraan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Pernyataan tersebut langsung memicu perubahan sentimen pasar karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan meredanya ketegangan geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pendorong utama lonjakan harga energi.
Minyak mentah Brent turun di bawah level psikologis US$85 per barel setelah sebelumnya anjlok sekitar 8,7% pada perdagangan Senin, penurunan harian terbesar dalam lebih dari tiga bulan. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran US$82 per barel. Koreksi tajam ini mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran untuk sementara dihentikan guna memberikan ruang bagi proses negosiasi. Namun hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi bahwa pembicaraan antara kedua negara telah menghasilkan kemajuan konkret. Ketidakjelasan tersebut membuat pasar tetap berhati-hati meskipun sentimen jangka pendek mulai membaik.
Pelaku pasar masih memantau kondisi di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia. Arus kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan belum sepenuhnya kembali normal setelah sempat terganggu akibat konflik. Iran dan Oman juga masih melanjutkan pembicaraan untuk membuka kembali jalur pelayaran yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima aliran minyak global. Selama aktivitas pelayaran belum pulih sepenuhnya, risiko terhadap pasokan energi dunia dinilai masih tetap ada.
Tekanan terhadap harga minyak juga mulai mereda dari sisi pasokan setelah terminal ekspor minyak utama Kazakhstan kembali beroperasi. Fasilitas Caspian Pipeline Consortium yang sempat terganggu kini telah mulai melakukan pemuatan minyak ke dua kapal tanker. Kembalinya operasi terminal tersebut memberikan sinyal bahwa sebagian pasokan minyak global mulai kembali mengalir ke pasar internasional.
Pada perdagangan terbaru, kontrak Brent untuk pengiriman September turun sekitar 0,7% menjadi US$87,73 per barel, sedangkan WTI melemah sekitar 0,9% ke level US$81,84 per barel. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar mulai lebih fokus pada kemungkinan pemulihan pasokan dan jalur diplomasi dibandingkan risiko eskalasi militer jangka pendek.
Ke depan, arah harga minyak masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Jika pembicaraan terus berlanjut dan pasokan energi kembali normal, Brent berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support yang lebih rendah. Sebaliknya, apabila konflik kembali memanas atau jalur pelayaran di Timur Tengah kembali terganggu, harga minyak dapat segera berbalik menguat dan kembali memasukkan premi risiko geopolitik yang besar.
Secara keseluruhan, pasar minyak saat ini berada dalam fase penyesuaian setelah reli tajam yang dipicu konflik geopolitik. Harapan terhadap jalur diplomasi berhasil menekan harga dalam jangka pendek, tetapi ketidakpastian mengenai hasil negosiasi dan kondisi distribusi energi global masih membuat volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Sumber : www.newsmaker.id
