Trump Perketat Tekanan Ekonomi Iran, Harga Minyak Bertahan di Level Tinggi

Harga minyak mempertahankan kenaikan selama empat hari berturut-turut pada perdagangan Kamis (20/8), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan langkah-langkah baru untuk memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran. Kebijakan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dan membuat harga minyak tetap bertahan di level tinggi.

Minyak mentah Brent sebagai acuan global diperdagangkan di bawah US$92 per barel setelah mencatat kenaikan lebih dari 5% dalam empat sesi sebelumnya. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Oktober berada di sekitar US$84 per barel. Pada perdagangan pagi di Singapura, Brent kontrak Oktober turun tipis 0,1% menjadi US$91,53 per barel, sedangkan WTI kontrak Oktober melemah 0,1% ke US$84,34 per barel.

Trump menyatakan bahwa langkah terbaru tersebut ditujukan untuk menerapkan tekanan ekonomi dan mengisolasi Iran dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Washington juga memperingatkan negara-negara yang membantu lembaga keuangan, perusahaan, bandara, maupun entitas pemerintah Iran bahwa mereka dapat menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat besar.

Kebijakan tersebut berpotensi memperketat sanksi terhadap aktivitas yang berkaitan dengan ekonomi Iran, termasuk penyelundupan, transfer uang tunai, aktivitas perusahaan penukaran valuta asing, hingga pendaftaran kapal. Pasar minyak kini menilai apakah langkah tersebut akan mengurangi ekspor minyak Iran atau justru memicu eskalasi baru di kawasan Timur Tengah.

Konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga minyak naik sepanjang tahun ini. Ketegangan terutama berpusat pada Selat Hormuz, jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi global. Ketidakpastian mengenai keamanan pelayaran melalui selat tersebut membuat premi risiko tetap tertanam dalam harga minyak.

Perubahan strategi Washington juga menjadi perhatian pasar. Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump tampak mengalihkan fokus dari opsi militer menuju tekanan ekonomi yang lebih agresif. Amerika Serikat juga mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sementara terdapat indikasi bahwa sebagian minyak Iran masih berhasil dikirim secara diam-diam melalui Selat Hormuz meskipun risiko terhadap kapal tetap tinggi.

Langkah Trump datang sehari setelah Uni Emirat Arab memutus seluruh hubungan ekonomi dengan Teheran setelah menuduh Iran meluncurkan rudal balistik ke wilayahnya. UEA selama ini merupakan salah satu pusat keuangan dan perdagangan penting bagi komunitas bisnis Iran, sehingga keputusan tersebut berpotensi semakin mempersempit akses Iran terhadap jaringan ekonomi internasional.

Dari sisi fundamental pasar minyak, sejumlah data Amerika Serikat turut memberikan dukungan terhadap harga. Aktivitas kilang minyak meningkat ke level tertinggi sejak 2019, menunjukkan permintaan terhadap minyak mentah dari sektor pengolahan masih kuat. Persediaan produk distilat nasional, termasuk diesel, juga turun ke level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Penurunan persediaan bahan bakar tersebut menjadi perhatian karena pasar diesel masih menghadapi kondisi pasokan yang relatif ketat. Margin pengolahan diesel yang tinggi dapat mendorong kilang mempertahankan tingkat operasi yang agresif, sehingga membantu menyerap pasokan minyak mentah.

Namun, kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat menjadi faktor yang membatasi penguatan harga. Data menunjukkan stok minyak mentah nasional meningkat sekitar 4,4 juta barel pada pekan sebelumnya. Peningkatan tersebut memberikan sinyal bahwa pasokan minyak mentah domestik masih cukup tersedia dan dapat meredam sebagian tekanan bullish dari sisi geopolitik.

Dengan demikian, arah harga minyak saat ini ditentukan oleh tarik-menarik antara risiko geopolitik dan fundamental pasokan. Tekanan ekonomi terhadap Iran berpotensi mengurangi ekspor minyak negara tersebut, sementara ketegangan di Selat Hormuz dapat meningkatkan premi risiko. Di sisi lain, kenaikan persediaan minyak mentah AS berpotensi membatasi ruang kenaikan apabila tidak terjadi gangguan pasokan fisik yang signifikan.

Newsmaker Analysis: Harga Brent masih memiliki fondasi bullish selama tekanan Amerika Serikat terhadap Iran meningkat dan ketidakpastian di Selat Hormuz belum terselesaikan. Area US$90 menjadi level psikologis penting, sementara bertahannya Brent di atas US$91 dapat membuka peluang pengujian kembali level US$92–US$95. Namun, jika arus ekspor minyak tetap berjalan dan tekanan terhadap persediaan AS berkurang, momentum kenaikan dapat kehilangan tenaga.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.