Harga minyak dunia kembali bertahan pada level tinggi dalam perdagangan Jumat (4/9/2026), dengan Brent berada di sekitar US$95,7 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$91,6 per barel. Penguatan tersebut membuat harga WTI berada di jalur kenaikan hampir 10% sepanjang pekan, sekaligus menunjukkan kembalinya premi risiko yang signifikan ke pasar energi global. Lonjakan harga minyak dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan bahwa pasar semakin memperhitungkan potensi gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak terutama dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah serangkaian serangan baru AS terhadap target Iran. Teheran kemudian merespons dengan menargetkan kepentingan AS di kawasan, meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan mengancam infrastruktur energi serta jalur perdagangan strategis. Situasi tersebut menjadi faktor utama yang mendorong pelaku pasar menaikkan premi risiko pada kontrak minyak mentah.
Perhatian terbesar tertuju pada Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia. Kekhawatiran terhadap kelancaran pelayaran melalui kawasan tersebut meningkat setelah aktivitas kapal komoditas menunjukkan penurunan. Hanya enam kapal komoditas tercatat melintasi Selat Hormuz pada Rabu, turun dari 11 kapal pada hari sebelumnya dan dibandingkan rata-rata hampir 13 kapal dalam 10 hari terakhir. Penurunan lalu lintas kapal tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa eskalasi konflik dapat menghambat distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.
Selat Hormuz memiliki peranan penting bagi perdagangan energi internasional karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dari kawasan Teluk. Setiap gangguan yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi memberikan dampak langsung terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan minyak dunia. Karena itu, meskipun belum terjadi penghentian total arus minyak, penurunan aktivitas pelayaran saja sudah cukup untuk mendorong investor memperhitungkan risiko pasokan yang lebih besar ke dalam harga.
Tekanan terhadap pasokan juga diperburuk oleh gangguan pada sejumlah kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia. Kondisi ini membuat pasar semakin khawatir bahwa kapasitas produksi maupun pengolahan tambahan yang tersedia untuk menggantikan pasokan yang terganggu relatif terbatas. Apabila konflik terus meningkat dan lebih banyak fasilitas energi terkena dampak, kemampuan pasar untuk mengompensasi kehilangan pasokan dapat semakin berkurang.
Kombinasi antara risiko geopolitik, penurunan aktivitas pelayaran, dan gangguan pada fasilitas pengolahan minyak telah menciptakan lingkungan yang sangat mendukung kenaikan harga. Brent yang bertahan di kisaran US$95–US$96 per barel menunjukkan bahwa pelaku pasar masih memberikan valuasi tinggi terhadap risiko gangguan pasokan. Sementara itu, WTI yang berada di sekitar US$91,6 per barel mencerminkan kuatnya momentum bullish yang telah terbentuk sepanjang pekan.
Pergerakan harga minyak juga menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dibandingkan faktor fundamental jangka pendek lainnya. Setiap berita mengenai serangan baru, ancaman terhadap jalur pelayaran, atau gangguan fasilitas energi berpotensi memicu pembelian kontrak minyak secara agresif. Sebaliknya, indikasi menuju penyelesaian diplomatik atau penurunan intensitas konflik dapat dengan cepat mengurangi premi risiko yang telah masuk ke harga.
Jika eskalasi konflik AS-Iran kembali meningkat dan gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz semakin parah, harga Brent berpeluang menguji kembali area US$97 hingga US$100 per barel. Penembusan level psikologis US$100 akan menjadi sinyal penting bagi pasar karena dapat memperkuat ekspektasi terhadap kenaikan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap inflasi.
Namun, kenaikan hampir 10% dalam sepekan juga meningkatkan risiko aksi ambil untung. Investor yang telah memperoleh keuntungan dari reli tajam harga minyak dapat memilih mengamankan profit apabila tidak ada perkembangan baru yang cukup kuat untuk mendorong harga lebih tinggi. Terlebih lagi, apabila konflik mulai mereda dan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz kembali meningkat, premi risiko dapat menyusut sehingga harga minyak berpotensi mengalami koreksi.
Dengan demikian, prospek harga minyak dunia dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Brent di sekitar US$95,7 per barel dan WTI di sekitar US$91,6 per barel menunjukkan bahwa sentimen pasar energi masih bullish. Selama risiko gangguan pasokan tetap tinggi, harga minyak berpotensi mempertahankan level elevated dan menguji area US$100 per barel. Sebaliknya, tanda-tanda de-eskalasi dapat memicu aksi ambil untung dan membawa harga minyak memasuki fase koreksi setelah reli tajam sepanjang pekan.
Sumber : www.newsmaker.id
