Harga Minyak Menguat, Kesepakatan Iran–Oman Jadi Sorotan Pasar di Tengah Risiko Selat Hormuz

Harga minyak mentah kembali menguat pada perdagangan Selasa, 8 September 2026, seiring pasar mencermati perkembangan terbaru terkait potensi kesepakatan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Ketidakpastian mengenai akses kapal tanker di jalur energi strategis tersebut membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi, terutama karena konflik antara Iran dan Amerika Serikat belum sepenuhnya mereda. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$93 per barel, sementara Brent yang sebelumnya ditutup pada US$97,31 per barel sempat menyentuh US$98,06 per barel, level tertinggi dalam enam pekan.

Pergerakan harga minyak tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memberikan perhatian besar terhadap risiko gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak global. Meskipun pembicaraan antara Iran dan Oman memberikan harapan terhadap stabilisasi arus pengiriman, pelaku pasar belum sepenuhnya yakin bahwa kesepakatan tersebut mampu mengembalikan kondisi pelayaran ke tingkat normal.

Iran menyatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Perkembangan tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar energi apabila kesepakatan benar-benar mampu memastikan keamanan dan kelancaran kapal tanker yang melewati kawasan tersebut. Namun, respons Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar. Washington menginginkan Selat Hormuz kembali berfungsi sebagai jalur terbuka dengan akses bebas seperti sebelum konflik, sementara Tehran memiliki kepentingan untuk mempertahankan pengaruh yang lebih besar terhadap lalu lintas kapal di kawasan strategis tersebut.

Perbedaan kepentingan tersebut membuat pasar belum dapat menganggap kesepakatan Iran–Oman sebagai solusi permanen. Jika kesepakatan hanya menghasilkan pengaturan terbatas mengenai keamanan pelayaran tanpa mengembalikan akses kapal secara penuh, risiko gangguan pasokan masih dapat bertahan. Sebaliknya, apabila mekanisme yang disepakati mampu meningkatkan jumlah kapal tanker yang melintas secara signifikan, tekanan terhadap pasokan global dapat mulai mereda dan premi risiko geopolitik dalam harga minyak berpotensi menyusut.

Risiko pasokan menjadi perhatian utama karena arus minyak yang melewati Selat Hormuz saat ini diperkirakan hanya sekitar 7 juta barel per hari. Angka tersebut jauh di bawah kisaran sekitar 20 juta barel per hari sebelum konflik, yang menunjukkan bahwa kapasitas jalur perdagangan energi tersebut belum kembali ke kondisi normal. Meskipun minyak masih dapat keluar dari kawasan Teluk Persia, keterbatasan arus pengiriman membuat pasar tetap rentan terhadap gangguan baru.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa harga Brent mampu kembali mendekati US$100 per barel meskipun terdapat perkembangan diplomatik antara Iran dan Oman. Pasar minyak tidak hanya memperhitungkan produksi yang tersedia, tetapi juga kemampuan untuk mengangkut minyak dari pusat produksi menuju konsumen global. Ketika kapasitas transportasi terganggu, pasokan efektif di pasar internasional dapat berkurang meskipun produksi minyak secara fisik belum mengalami penurunan besar.

Risiko geopolitik juga semakin kompleks karena ketegangan telah meluas ke infrastruktur energi di kawasan. Iran memperingatkan bahwa setiap serangan baru terhadap asetnya akan mendapatkan respons balasan. Pada saat yang sama, sejumlah fasilitas energi di kawasan Teluk dan Laut Merah telah menjadi sasaran dalam beberapa pekan terakhir. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang dari gangguan terhadap kapal tanker menjadi ancaman langsung terhadap fasilitas produksi, penyimpanan, pemrosesan, dan ekspor minyak.

Apabila fasilitas energi utama mengalami kerusakan, dampaknya terhadap harga minyak dapat jauh lebih besar dibandingkan gangguan pelayaran semata. Kerusakan infrastruktur produksi atau ekspor dapat mengurangi kapasitas pasokan secara langsung dan membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Pasar biasanya akan merespons kondisi tersebut dengan menaikkan premi risiko karena ketidakpastian mengenai berapa lama gangguan akan berlangsung dan seberapa besar volume minyak yang terdampak.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan permintaan minyak global, khususnya dari China. Para pelaku industri yang berkumpul dalam Asia Pacific Petroleum Conference di Singapura memantau ketat kondisi pasokan global serta prospek konsumsi minyak China. Sebagai salah satu konsumen dan importir minyak terbesar dunia, perubahan pola pembelian China dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap keseimbangan pasar minyak internasional.

Sejumlah kilang minyak China dilaporkan meningkatkan pembelian minyak dari Afrika, Kanada, dan Amerika Latin untuk mencari alternatif pasokan di tengah gangguan jalur perdagangan tradisional. Strategi tersebut menunjukkan bahwa konsumen energi di Asia mulai menyesuaikan rantai pasok untuk menghadapi ketidakpastian geopolitik. Namun, peningkatan pembelian dari sumber alternatif belum dapat secara otomatis diartikan sebagai tanda pemulihan permintaan minyak China dalam jangka panjang.

Pelaku pasar masih perlu membedakan antara pembelian untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan pembelian strategis untuk mengantisipasi gangguan pasokan. Jika kilang meningkatkan impor karena ingin membangun persediaan atau mengganti sumber minyak yang sebelumnya melewati Selat Hormuz, dampaknya terhadap permintaan berkelanjutan dapat berbeda dibandingkan apabila pembelian tersebut didorong oleh pertumbuhan konsumsi domestik yang kuat.

Dari sisi harga, sentimen terhadap minyak mentah masih cenderung bullish selama arus minyak melalui Selat Hormuz tetap jauh di bawah tingkat normal dan konflik Amerika Serikat–Iran belum menemukan penyelesaian yang jelas. Brent yang telah berada di sekitar US$98 per barel kini semakin dekat dengan level psikologis US$100 per barel. Level tersebut menjadi perhatian penting karena penembusan yang berkelanjutan dapat memperkuat momentum kenaikan apabila risiko pasokan kembali meningkat.

Kesepakatan Iran–Oman menjadi faktor kunci yang berpotensi mengubah arah pasar dalam jangka pendek. Jika kesepakatan tersebut benar-benar mampu memperlancar perjalanan kapal tanker dan meningkatkan volume pengiriman melalui Selat Hormuz, premi risiko geopolitik dapat berkurang dan harga minyak berpotensi mengalami koreksi. Namun, apabila kesepakatan justru memperkuat kendali Tehran atas lalu lintas pelayaran atau mendapat penolakan dari Washington, ketidakpastian dapat bertahan lebih lama.

Dengan demikian, pergerakan harga minyak dalam beberapa sesi mendatang akan sangat bergantung pada realisasi arus pelayaran, respons Amerika Serikat, serta perkembangan konflik di kawasan. Selama pasokan melalui Selat Hormuz belum kembali mendekati tingkat sebelum konflik, pasar kemungkinan tetap memberikan premi terhadap risiko geopolitik. Dalam skenario eskalasi, harga Brent berpeluang menguji kembali area US$98–US$100 per barel, sementara peningkatan gangguan terhadap produksi atau ekspor dapat membuka ruang bagi kenaikan yang lebih agresif.

Secara keseluruhan, prospek harga minyak masih berada dalam bias bullish dengan Selat Hormuz sebagai faktor utama yang menentukan arah pasar. Potensi kesepakatan Iran–Oman memang memberikan peluang bagi normalisasi perdagangan energi, tetapi pasar masih membutuhkan bukti bahwa jalur pelayaran benar-benar kembali aman dan mampu menampung arus kapal tanker dalam jumlah besar. Hingga kepastian tersebut muncul, risiko gangguan pasokan akan tetap menjadi penopang utama harga Brent dan WTI serta menjaga volatilitas pasar minyak global tetap tinggi.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.