Harga Minyak Dunia Turun Dua Hari Beruntun, Jalur Pipa Arab Saudi Mulai Pulih

Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis, 17 September, melanjutkan penurunan selama dua hari berturut-turut. Pergerakan ini dipengaruhi oleh tanda-tanda membaiknya pasokan minyak di Timur Tengah setelah Arab Saudi mulai memulihkan kapasitas jalur pipa penting yang rusak akibat serangan pekan lalu. Perkembangan tersebut meningkatkan harapan bahwa gangguan pasokan energi global dapat berkurang, meskipun risiko geopolitik di kawasan masih membayangi pasar.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 0,9% menjadi US$104,89 per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober melemah 0,9% ke US$101,48 per barel. Penurunan harga minyak ini mencerminkan respons pasar terhadap prospek pemulihan distribusi minyak, sekaligus mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang masih berpotensi mengganggu arus energi internasional.

Arab Saudi mulai memulihkan sekitar setengah kapasitas jalur pipa East-West dalam beberapa hari setelah fasilitas tersebut mengalami kerusakan akibat serangan pada pekan sebelumnya. Pemulihan seluruh operasional jalur pipa diperkirakan membutuhkan waktu hingga enam minggu. Proses perbaikan ini menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu infrastruktur utama dalam sistem distribusi minyak Arab Saudi.

Jalur pipa East-West memiliki peran strategis dalam mengangkut minyak mentah Arab Saudi menuju pesisir Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz. Rute alternatif ini memungkinkan sebagian pengiriman minyak tetap berlangsung di luar jalur pelayaran yang sangat sensitif terhadap konflik geopolitik. Dengan kapasitas pipa yang mulai kembali pulih, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global sedikit mereda.

Meskipun demikian, pemulihan kapasitas pipa belum berarti seluruh risiko pasokan telah berakhir. Fasilitas tersebut masih membutuhkan waktu untuk kembali beroperasi secara penuh, sedangkan keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah tetap menjadi perhatian. Setiap serangan baru terhadap fasilitas produksi, penyimpanan, atau transportasi minyak berpotensi kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan dunia.

Selain perkembangan di Arab Saudi, arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz juga menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright menyampaikan bahwa sekitar 18 juta barel minyak mentah dan produk minyak berhasil melewati jalur tersebut dalam satu hari pada awal pekan. Rata-rata pengiriman selama tujuh hari tercatat sekitar 11 juta barel per hari berdasarkan pernyataan tersebut.

Namun, estimasi dari Clarksons Research menunjukkan angka yang lebih rendah, yakni sekitar 8 juta barel per hari. Perbedaan data ini menunjukkan bahwa kondisi lalu lintas energi di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya jelas. Pelaku pasar perlu memperhatikan perkembangan arus kapal dan volume pengiriman aktual untuk menilai seberapa besar pemulihan pasokan minyak dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman energi paling penting di dunia. Gangguan terhadap rute ini dapat memengaruhi distribusi minyak mentah dan produk energi dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Oleh karena itu, setiap kabar mengenai peningkatan atau penurunan aktivitas pelayaran dapat memberikan dampak langsung terhadap sentimen harga minyak Brent dan WTI.

Pergerakan harga minyak dunia juga dipengaruhi oleh perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara Teluk. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin negara Teluk di New York pada pekan depan, bertepatan dengan agenda Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas langkah selanjutnya terkait konflik Amerika Serikat dan Iran.

Trump juga menyatakan bahwa perang tersebut dapat segera berakhir dan kesepakatan dapat tercapai kapan saja. Pernyataan ini memberikan ruang bagi munculnya ekspektasi bahwa ketegangan geopolitik dapat mereda. Apabila proses diplomasi menghasilkan kesepakatan yang mampu memperbaiki keamanan jalur pelayaran dan distribusi energi, tekanan terhadap harga minyak dapat meningkat seiring membaiknya prospek pasokan.

Namun, pasar minyak tetap perlu mempertimbangkan bahwa pernyataan politik belum tentu langsung menghasilkan perubahan nyata pada kondisi pasokan. Keamanan fasilitas energi, kelancaran pelayaran, dan keberlanjutan kesepakatan diplomatik akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak selanjutnya. Selama risiko konflik masih ada, harga minyak dapat tetap bergerak volatil meskipun terdapat tanda-tanda pemulihan pasokan.

Di sisi lain, potensi gangguan pasokan dari Rusia turut membatasi penurunan harga minyak dunia. Kongres Amerika Serikat telah menyetujui rancangan undang-undang yang memberikan kewenangan kepada Trump untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara yang membeli produk minyak Rusia. Kebijakan tersebut berpotensi mencakup negara seperti China dan India, yang merupakan konsumen energi besar di pasar global.

Apabila kebijakan tarif tersebut diterapkan, perdagangan produk minyak Rusia dapat menghadapi hambatan tambahan. Dampaknya terhadap pasar akan bergantung pada cakupan kebijakan, negara yang terkena dampak, serta respons para pembeli dan pemasok energi. Gangguan terhadap arus perdagangan minyak Rusia berpotensi mengurangi ketersediaan produk energi di sejumlah pasar dan meningkatkan kembali kekhawatiran mengenai pasokan.

Risiko pasokan juga datang dari serangan Ukraina terhadap fasilitas kilang minyak Rusia. Serangan terhadap kilang dapat mengganggu kemampuan pengolahan minyak mentah menjadi produk seperti solar dan bahan bakar lainnya. Kondisi ini berpotensi memperketat pasokan produk minyak olahan, terutama apabila gangguan berlangsung dalam waktu yang panjang.

Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa larangan ekspor solar Rusia diperpanjang hingga Oktober. Jika pembatasan tersebut berlanjut, pasokan solar di pasar internasional dapat menghadapi tekanan tambahan. Perkembangan ini menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena gangguan pada produk minyak olahan dapat memengaruhi keseimbangan pasar energi meskipun produksi minyak mentah secara keseluruhan tidak mengalami penurunan besar.

Dengan demikian, penurunan harga minyak dunia pada perdagangan Kamis mencerminkan tarik-menarik antara harapan pemulihan pasokan dan risiko gangguan energi yang masih berlangsung. Pemulihan jalur pipa East-West Arab Saudi serta peningkatan arus pengiriman melalui Selat Hormuz memberikan tekanan terhadap harga Brent dan WTI. Namun, perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran, potensi kebijakan tarif terhadap pembeli minyak Rusia, serangan terhadap kilang Rusia, serta kemungkinan perpanjangan larangan ekspor solar tetap menjadi faktor yang dapat membatasi penurunan lebih lanjut.

Pelaku pasar minyak akan mencermati perkembangan perbaikan infrastruktur energi Arab Saudi, volume pengiriman melalui Selat Hormuz, dan hasil pertemuan Trump dengan para pemimpin negara Teluk. Di saat yang sama, kebijakan perdagangan Amerika Serikat terhadap minyak Rusia dan kondisi kilang Rusia akan menjadi perhatian penting dalam menilai prospek pasokan global.

Selama pemulihan pasokan berlangsung secara bertahap, harga minyak dunia berpotensi tetap mengalami volatilitas tinggi. Pergerakan Brent dan WTI selanjutnya akan bergantung pada keseimbangan antara membaiknya distribusi minyak di Timur Tengah dan potensi gangguan baru dari konflik geopolitik serta pembatasan perdagangan energi.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.