Harga emas (XAU/USD) kembali menguat pada perdagangan Selasa setelah penurunan harga minyak dunia dalam beberapa sesi terakhir meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global. Kondisi tersebut membuat pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Federal Reserve tidak perlu menerapkan kenaikan suku bunga secara agresif dalam kebijakan berikutnya. Emas bergerak di sekitar US$4.360 per troy ounce setelah sebelumnya mencatat penurunan harian terbesar dalam sepekan.
Pemulihan harga emas terjadi ketika harga minyak mulai stabil setelah sebelumnya merosot lebih dari 9% dalam empat hari terakhir. Penurunan tersebut dipicu oleh berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi di Timur Tengah serta meningkatnya harapan terhadap penyelesaian diplomatik konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Meredanya risiko gangguan pasokan memberikan tekanan terhadap harga minyak sekaligus mengubah kembali ekspektasi pasar mengenai arah inflasi global.
Penurunan harga minyak menjadi salah satu faktor yang memberikan dukungan terhadap emas karena dapat mengurangi tekanan inflasi. Harga energi memiliki pengaruh luas terhadap biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Apabila harga minyak terus menurun, tekanan terhadap inflasi dapat berkurang sehingga bank sentral memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan kebijakan moneter yang tidak terlalu ketat atau mempertimbangkan pelonggaran apabila kondisi ekonomi mendukung.
Situasi tersebut penting bagi emas karena daya tarik logam mulia sangat dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap suku bunga dan imbal hasil aset berbasis dolar AS. Ketika pasar memperkirakan tekanan inflasi akan mereda dan kebijakan moneter berpotensi menjadi lebih longgar, biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga dapat berkurang. Kondisi ini dapat meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Namun, tekanan terhadap emas dari kebijakan Federal Reserve belum sepenuhnya hilang. Investor masih mencermati pernyataan sejumlah pejabat The Fed setelah keputusan kenaikan suku bunga pada pekan sebelumnya. Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee menekankan bahwa bank sentral tidak dapat mengabaikan tekanan harga yang muncul akibat gangguan pasokan yang berulang.
Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan mungkin masih diperlukan untuk memastikan inflasi kembali menuju target. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa risiko kebijakan moneter yang tetap ketat masih menjadi salah satu tantangan bagi harga emas. Jika lebih banyak pejabat The Fed memberikan sinyal serupa, ekspektasi terhadap suku bunga tinggi dapat kembali meningkat dan membatasi ruang penguatan XAU/USD.
Meski demikian, respons emas terhadap sikap hawkish The Fed sejauh ini menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Analis TD Securities Ryan McKay menyebut emas tetap mampu bertahan setelah kenaikan suku bunga terbaru, sementara sebagian investor melihat pelemahan jangka pendek sebagai kesempatan untuk menambah kepemilikan logam mulia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor pendukung emas tidak hanya berasal dari ekspektasi suku bunga, tetapi juga dari permintaan investasi dan ketidakpastian global.
Arus dana ke ETF berbasis emas juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Sepanjang September, kepemilikan emas melalui ETF bertambah sekitar 50 ton. Peningkatan arus dana tersebut menunjukkan bahwa permintaan investasi terhadap emas tetap kuat meskipun lingkungan suku bunga masih relatif ketat. Aliran dana yang berkelanjutan dapat membantu memberikan penyangga terhadap tekanan jual ketika harga emas mengalami koreksi.
Selain faktor moneter dan inflasi, perkembangan hubungan Amerika Serikat dan China juga menjadi perhatian investor. Pasar menunggu perkembangan menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pembicaraan mengenai perdagangan, investasi, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat memengaruhi sentimen risiko global serta menentukan seberapa besar kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai.
Dengan demikian, harga emas saat ini berada di tengah tarik-menarik antara tekanan dari kebijakan suku bunga Federal Reserve dan dukungan dari meredanya tekanan inflasi serta ketidakpastian geopolitik. Penurunan harga minyak menjadi faktor yang membantu emas karena dapat mengurangi risiko inflasi, sementara perkembangan diplomatik di Timur Tengah berpotensi semakin menekan harga energi apabila menghasilkan pengurangan risiko gangguan pasokan.
Jika harga minyak terus melemah dan pasar mulai memperkirakan perubahan menuju kebijakan Federal Reserve yang lebih longgar, emas berpotensi memperoleh dukungan tambahan. Namun, penguatan dolar AS serta pernyataan hawkish dari pejabat The Fed tetap menjadi risiko utama yang dapat membatasi kenaikan XAU/USD. Karena itu, pergerakan emas dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada kombinasi perkembangan harga energi, ekspektasi suku bunga, arus dana investasi, serta kondisi geopolitik dan hubungan perdagangan global.
Sumber : www.newsmaker.id
