Harga Emas Tertekan, The Fed dan Kenaikan Harga Minyak Jadi Beban

Harga emas (XAU/USD) masih berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (24 September) seiring pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve. Harga emas bergerak di sekitar US$4.290 per troy ounce setelah sebelumnya turun sekitar 1,7% pada sesi perdagangan sebelumnya. Tekanan tersebut muncul ketika ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat kembali meningkat di tengah kekhawatiran bahwa inflasi Amerika Serikat dapat bertahan lebih lama.

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas berasal dari data ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan aktivitas bisnis lebih kuat dari perkiraan. Indeks S&P Global Flash US Composite PMI untuk September meningkat menjadi 58,4, sekaligus mencatat level tertinggi sejak Juli 2021. Data tersebut mencerminkan permintaan yang masih kuat serta peningkatan aktivitas di sektor manufaktur dan jasa.

Kinerja ekonomi yang tetap solid dapat memberikan ruang lebih besar bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Jika pertumbuhan dan permintaan domestik tetap kuat, tekanan terhadap harga berpotensi bertahan lebih lama sehingga penurunan inflasi menuju target 2% menjadi lebih sulit. Kondisi tersebut membuat pasar kembali mencermati kemungkinan penyesuaian suku bunga dalam pertemuan kebijakan berikutnya.

Selain data ekonomi, pasar obligasi Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Imbal hasil obligasi Treasury meningkat tajam seiring investor mempertimbangkan risiko bahwa inflasi akan bertahan pada tingkat tinggi. Kenaikan imbal hasil menunjukkan meningkatnya kompensasi yang diminta investor untuk memegang surat utang dalam lingkungan dengan ketidakpastian inflasi dan kebijakan moneter.

Imbal hasil obligasi AS bertenor lima tahun bahkan kembali menembus level 5% dan mencapai posisi tertinggi sejak 2007. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap emas karena logam mulia tidak memberikan pendapatan bunga. Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, biaya peluang memegang emas menjadi lebih tinggi dan dapat mengurangi daya tariknya bagi sebagian investor.

Pergerakan dolar AS juga menjadi faktor penting bagi emas. Kebijakan moneter yang lebih ketat dan kenaikan imbal hasil obligasi dapat menopang permintaan terhadap dolar, sehingga harga emas yang dihitung dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Kombinasi dolar yang kuat dan imbal hasil tinggi membuat ruang penguatan XAU/USD menjadi lebih terbatas.

Di sisi lain, harga minyak kembali meningkat setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak akan mengizinkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz selama sanksi dan blokade Amerika Serikat masih diberlakukan. Pernyataan tersebut meningkatkan kembali kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dunia. Setiap risiko gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat meningkatkan premi risiko pada harga minyak. Kenaikan harga energi juga berpotensi menambah tekanan inflasi melalui biaya bahan bakar, transportasi, dan produksi.

Situasi tersebut menciptakan dinamika yang cukup kompleks bagi harga emas. Di satu sisi, meningkatnya risiko geopolitik dan tekanan terhadap pasokan energi dapat meningkatkan kebutuhan terhadap aset safe haven. Namun, apabila kenaikan harga minyak justru memperkuat ekspektasi inflasi dan mendorong Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat, kenaikan imbal hasil obligasi dan dolar AS dapat menjadi tekanan yang lebih besar bagi emas.

Untuk perdagangan berikutnya, investor akan mencermati perkembangan harga minyak, situasi di Selat Hormuz, pergerakan imbal hasil Treasury, serta setiap pernyataan pejabat Federal Reserve. Data ekonomi AS yang menunjukkan ketahanan aktivitas bisnis juga akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga dan menentukan apakah tekanan terhadap harga emas masih berlanjut.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.