Perang Timur Tengah Guncang Pasokan Energi, Harga Brent Melonjak 17% dalam Sepekan

Harga minyak dunia mencatat reli mingguan terbesar sejak 2022 setelah perang di Timur Tengah memicu gangguan besar pada pasar energi global. Lonjakan ini terjadi karena produsen, importir, serta perusahaan pelayaran berupaya menyesuaikan aliran pasokan yang terganggu oleh konflik regional. Meskipun demikian, pada perdagangan Asia Jumat harga sedikit terkoreksi setelah muncul sinyal dari pemerintah Amerika Serikat mengenai langkah-langkah untuk meredakan tekanan harga energi.

Kontrak minyak mentah Brent Crude naik sekitar 17% sepanjang pekan, meskipun pada Jumat sempat turun di bawah US$85 per barel. Pada pukul 11:23 waktu Singapura, Brent untuk pengiriman Mei turun sekitar 1% ke level US$84,55 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak April melemah 1,3% ke sekitar US$79,98 per barel, namun secara mingguan tetap mencatat kenaikan sekitar 17%.

Kenaikan tajam ini terutama dipicu oleh kekhawatiran terhadap pasokan dari kawasan Teluk, khususnya karena lalu lintas kapal tanker melalui Strait of Hormuz dilaporkan hampir terhenti. Data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas maritim di jalur energi vital tersebut mengalami penurunan drastis. Kondisi ini langsung mengganggu distribusi pasokan global, memicu penghentian produksi sebagian di beberapa fasilitas energi, serta memperparah gangguan setelah laporan bahwa sejumlah kilang dan kapal tanker terdampak konflik.

Ketegangan geopolitik juga semakin meluas. Konflik dilaporkan telah melibatkan sekitar selusin negara sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer pada 28 Februari. Iran menyatakan tidak bersedia bernegosiasi dan bersiap menghadapi kemungkinan invasi darat, sementara Israel terus melanjutkan operasi militernya. Di sisi lain, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar mengklaim telah mencegat serangan drone serta rudal yang diarahkan ke wilayah mereka, menambah ketidakpastian terhadap stabilitas kawasan penghasil energi utama dunia.

Di tengah lonjakan harga energi, pemerintah AS mulai mengambil langkah kebijakan untuk menahan tekanan pasar. United States Department of the Treasury memberikan kelonggaran sementara yang memungkinkan India membeli minyak Rusia melalui pengecualian jangka pendek. Namun otoritas menegaskan bahwa kebijakan tersebut hanya berlaku untuk transaksi minyak yang sudah berada di laut dan belum sampai ke tujuan. Selain itu, pemerintah AS juga mempertimbangkan berbagai opsi untuk menahan lonjakan harga minyak dan bensin, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan darurat dari Strategic Petroleum Reserve, meskipun keputusan resmi belum diambil.

Dampak lonjakan harga minyak mulai terlihat di sepanjang rantai pasokan energi dan ekonomi riil. Kontrak gasoil rendah sulfur di Eropa melonjak sekitar 42% sepanjang pekan ini, menandakan ketatnya pasokan bahan bakar sulingan. Di Amerika Serikat sendiri, harga rata-rata bensin ritel dilaporkan naik sekitar 9%, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Indikasi keketatan pasokan jangka pendek juga terlihat dari struktur pasar Brent. Selisih harga kontrak terdekat (prompt spread) melebar menjadi sekitar US$4,35 per barel dalam kondisi backwardation, jauh meningkat dibandingkan hanya sekitar 58 sen sebulan lalu. Struktur ini biasanya mencerminkan pasokan yang sangat ketat dalam jangka pendek, karena pembeli bersedia membayar lebih mahal untuk pengiriman segera.

Ke depan, pelaku pasar akan memantau tiga faktor utama yang dapat menentukan arah harga minyak global. Pertama, berapa lama gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz akan berlangsung. Kedua, seberapa agresif respons kebijakan pemerintah, termasuk kemungkinan pelepasan cadangan strategis. Ketiga, seberapa cepat lonjakan harga energi tersebut diterjemahkan menjadi ekspektasi inflasi global yang lebih tinggi.

Beberapa analis bahkan melihat skenario harga minyak melampaui US$100 per barel jika gangguan pasokan berlanjut. Goldman Sachs menilai skenario tersebut masih mungkin terjadi dalam kondisi ekstrem. Namun dalam proyeksi dasar mereka, pengiriman energi diperkirakan akan pulih secara bertahap, dengan rata-rata harga minyak futures sekitar US$76 per barel pada kuartal kedua tahun ini.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.