Dolar AS Menguat, Data ISM dan ADP Pangkas Peluang Pemangkasan Suku Bunga The Fed

Dolar Amerika Serikat kembali menguat pada Kamis (5 Maret) setelah serangkaian data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan memicu penyesuaian ekspektasi kebijakan moneter. Indeks dolar AS (DXY) naik sekitar 0,3% ke level 99,004, memperpanjang momentum penguatan yang dipicu oleh perubahan pandangan pasar terhadap arah suku bunga dari Federal Reserve.

Penguatan dolar terutama didorong oleh lonjakan aktivitas sektor jasa di Amerika Serikat. Data ISM Services PMI menunjukkan indeks naik menjadi 56,1 pada Februari dari 53,8 pada Januari, menandakan ekspansi sektor jasa yang semakin kuat. Angka di atas 50 menunjukkan pertumbuhan, sehingga kenaikan ini memperkuat sinyal bahwa ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan yang solid meskipun berada dalam lingkungan suku bunga tinggi.

Selain itu, laporan ketenagakerjaan sektor swasta dari ADP National Employment Report juga memberikan dorongan tambahan bagi dolar. Data tersebut menunjukkan penambahan sekitar 63.000 pekerjaan pada Februari, melampaui ekspektasi pasar. Meskipun tidak selalu sejalan dengan laporan ketenagakerjaan resmi pemerintah, angka ADP sering digunakan sebagai indikator awal kondisi pasar tenaga kerja AS.

Serangkaian data kuat ini datang pada saat pasar juga menghadapi tekanan inflasi dari lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasokan energi meningkatkan kekhawatiran bahwa inflasi bisa kembali menguat. Kombinasi antara permintaan domestik yang solid dan tekanan harga energi membuat investor semakin berhati-hati terhadap kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter secara agresif.

Perubahan ekspektasi tersebut tercermin dalam proyeksi pasar terhadap suku bunga. Berdasarkan data dari London Stock Exchange Group (LSEG), pasar kini hanya sepenuhnya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini, yang kemungkinan terjadi pada September. Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun, namun prospek inflasi yang lebih tinggi membuat skenario tersebut semakin diragukan.

Penyesuaian ekspektasi ini menjadi faktor utama yang menopang penguatan dolar. Ketika suku bunga di AS diperkirakan tetap tinggi lebih lama, selisih imbal hasil antara obligasi AS dan negara maju lainnya cenderung melebar. Kondisi tersebut biasanya menarik arus modal global ke aset berdenominasi dolar, sehingga memperkuat mata uang AS terhadap mayoritas mata uang utama dunia.

Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada serangkaian data ekonomi berikutnya, terutama laporan ketenagakerjaan dan inflasi yang dapat menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya. Di tengah volatilitas harga energi dan ketegangan geopolitik yang masih tinggi, setiap rilis data penting berpotensi memicu perubahan cepat dalam narasi pasar mengenai suku bunga, sekaligus menentukan apakah penguatan dolar dapat berlanjut atau justru mengalami koreksi dalam jangka pendek.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.