Harga Minyak Brent Tembus US$100: Gangguan Pengiriman Timur Tengah dan Pembatasan Ekspor China Picu Lonjakan Pasar Energi Global

Harga minyak mentah Brent kembali melampaui level psikologis US$100 per barel setelah meningkatnya ketegangan konflik Iran memicu gangguan pengiriman di kawasan Timur Tengah. Lonjakan ini menandakan bahwa pasar energi global kembali didominasi oleh premi risiko pasokan, ketika kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak menjadi faktor utama yang menggerakkan harga. Dalam perdagangan terbaru, Brent sempat melonjak hingga sekitar US$101,59 per barel, sementara minyak mentah WTI mendekati US$96 per barel, menunjukkan sentimen pasar yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan stabilitas rantai pasokan energi.

Risiko logistik meningkat tajam setelah Oman memutuskan mengevakuasi seluruh kapal dari terminal ekspor utamanya yang berada di luar Selat Hormuz. Keputusan ini memperkuat kekhawatiran pasar karena jalur tersebut merupakan salah satu titik distribusi minyak paling strategis di dunia. Situasi semakin memanas ketika dua kapal tanker dilaporkan mengalami serangan di perairan Irak. Peristiwa ini menimbulkan ketidakpastian besar terhadap keamanan transportasi energi, sekaligus mengaburkan dampak dari langkah Badan Energi Internasional yang sebelumnya merencanakan pelepasan cadangan minyak untuk meredam kenaikan harga. Pelaku pasar tampaknya lebih fokus pada bukti nyata gangguan fisik terhadap pasokan dibandingkan intervensi kebijakan yang bersifat sementara.

Tekanan terhadap pasar juga datang dari kebijakan energi regional, khususnya dari China yang mulai memperketat ekspor bahan bakar. Beberapa kilang besar di negara tersebut dilaporkan membatalkan pengiriman ekspor produk olahan seperti bensin dan solar yang sebelumnya telah disepakati. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk melindungi pasokan domestik di tengah meningkatnya volatilitas pasar global. Bahkan, sejumlah kilang utama dilaporkan telah diminta untuk menghentikan penandatanganan kontrak ekspor baru. Langkah ini dipandang sebagai pengetatan tambahan terhadap panduan ekspor sebelumnya, sekaligus memperkuat tekanan pasokan di pasar energi internasional.

Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia kini masih dalam kondisi tertutup, memaksa produsen utama di kawasan Teluk untuk memangkas produksi mereka. Dampak dari penutupan jalur strategis ini tidak hanya dirasakan pada minyak mentah, tetapi juga merembet ke pasar gas alam dan produk energi turunan seperti diesel. Selama sepekan terakhir, harga energi mengalami fluktuasi ekstrem seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik. Beberapa lembaga keuangan global bahkan memperingatkan potensi lonjakan harga yang lebih tinggi jika gangguan pasokan terus berlanjut.

Analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi melampaui rekor tertinggi tahun 2008 apabila arus distribusi melalui Selat Hormuz tetap terhambat hingga bulan Maret. Sementara itu, Sanford C. Bernstein menilai bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut merupakan faktor paling krusial untuk menstabilkan harga minyak global. Tanpa pemulihan jalur logistik utama, pasar kemungkinan akan terus menghadapi tekanan harga yang signifikan karena ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Di sisi kebijakan, Badan Energi Internasional dikabarkan tengah menyiapkan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi sebesar 400 juta barel. Amerika Serikat sendiri berencana menyumbang sekitar 172 juta barel sebagai bagian dari upaya global untuk menahan kenaikan harga energi. Namun demikian, sejumlah pelaku pasar mempertanyakan efektivitas langkah tersebut apabila gangguan pasokan harian akibat penutupan Selat Hormuz tetap berlangsung dalam skala besar. Pelepasan cadangan strategis memang dapat memberikan bantalan sementara bagi pasar, tetapi tidak sepenuhnya mampu menggantikan pasokan yang hilang dari jalur perdagangan utama.

Ketegangan geopolitik juga semakin mempersulit situasi. Iran menyatakan bahwa gencatan senjata hanya dapat terjadi apabila Amerika Serikat dan Israel memberikan jaminan untuk tidak melancarkan serangan di masa depan. Syarat tersebut dinilai sulit diterima oleh Washington. Di tengah dinamika tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa konflik kemungkinan akan segera berakhir, namun ia juga menegaskan bahwa kehadiran militer Amerika akan tetap dipertahankan selama dianggap perlu.

Dalam perdagangan terbaru pada pukul 12:46 siang waktu Singapura, kontrak minyak Brent untuk pengiriman Mei tercatat melonjak sekitar 9,3% menjadi US$100,54 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI untuk pengiriman April naik sekitar 8,7% menjadi US$94,85 per barel. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketahanan pasokan energi global, sekaligus menunjukkan bahwa faktor geopolitik masih menjadi penggerak utama volatilitas harga minyak dunia.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.