Harga emas global mengalami tekanan signifikan setelah insiden terbaru di Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah telah memperburuk sentimen pasar, terutama setelah sejumlah kapal dilaporkan menjadi sasaran serangan pada akhir pekan. Dalam perdagangan awal, harga emas turun mendekati level $4.780 per ounce, menghapus sebagian besar kenaikan sebesar 1,7% yang tercatat pada pekan sebelumnya.
Situasi semakin memanas setelah Donald Trump mengumumkan bahwa US Navy telah menembaki dan menyita kapal kargo berbendera Iran. Tindakan ini langsung memicu respons keras dari Teheran yang memperingatkan bahwa setiap kapal yang mendekati selat tersebut akan dianggap melanggar gencatan senjata. Dampaknya terasa langsung di sektor logistik global, di mana beberapa kapal dilaporkan membatalkan perjalanan hanya beberapa jam setelah Iran menyatakan jalur tersebut “sepenuhnya terbuka”. Ketidakpastian ini mempertegas rapuhnya jalur distribusi energi global yang sangat bergantung pada kawasan tersebut.
Ketegangan ini juga memberikan bayangan gelap terhadap upaya diplomatik yang tengah berlangsung. Pembicaraan damai yang direncanakan di Islamabad kini menghadapi tantangan serius. Meskipun Trump menyatakan masih melihat peluang tercapainya kesepakatan, ia kembali melontarkan ancaman terhadap infrastruktur Iran. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa tidak ada “prospek yang jelas” untuk tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat. Kondisi ini memperlihatkan betapa rentannya gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir dalam waktu dekat.
Di pasar komoditas lainnya, harga minyak melonjak tajam pada hari Senin setelah sebelumnya sempat melemah akibat pernyataan Iran yang menyebut Selat Hormuz dalam kondisi aman. Sementara itu, kontrak berjangka saham AS mengalami penurunan, dan indeks dolar AS—termasuk Bloomberg Dollar Spot Index—menguat sekitar 0,3%. Penguatan dolar ini memberikan tekanan tambahan terhadap emas, mengingat logam mulia tersebut diperdagangkan dalam mata uang dolar AS.
Dari perspektif fundamental, gangguan berkepanjangan pada pasokan energi global berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi ini dapat mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya lebih lanjut. Bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil, situasi ini menjadi faktor negatif karena investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan return lebih tinggi. Data terbaru menunjukkan harga emas spot turun 1% menjadi $4.780,89 per ounce, sementara perak merosot 1,6% ke $79,59. Logam lainnya seperti platinum dan palladium juga mengalami pelemahan, mencerminkan tekanan luas di pasar logam mulia.
Ketegangan di Selat Hormuz kembali menegaskan betapa sensitifnya pasar global terhadap dinamika geopolitik dan energi. Dengan risiko yang terus meningkat dan ketidakpastian yang belum mereda, pergerakan harga emas dan komoditas lainnya diperkirakan akan tetap volatil dalam waktu dekat.
