Dolar Kuat Menekan Emas, Ketegangan Hormuz Mendorong Lonjakan Harga Minyak Global

Pergerakan emas sepanjang pekan terakhir mencerminkan dinamika pasar yang penuh kehati-hatian, dengan arah harga yang cenderung choppy akibat tarik-menarik dua sentimen utama: prospek diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran serta risiko gangguan distribusi energi di Selat Hormuz. Harapan terhadap jalur negosiasi sempat meredam permintaan aset safe haven, namun ketidakpastian geopolitik yang belum mereda, ditambah lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi berbasis energi, tetap menjaga daya tarik emas di level tertentu.

Tekanan terbesar terhadap emas datang dari penguatan dolar AS yang didukung oleh kinerja ekonomi Amerika yang solid, serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Kombinasi ini memperkecil peluang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed menjadi semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, emas sebagai aset non-yielding kehilangan sebagian daya saingnya, karena investor cenderung beralih ke instrumen berbunga yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.

Meskipun sempat mengalami rebound tipis ketika dolar melemah dan muncul sinyal potensi perpanjangan gencatan senjata, penguatan emas tetap tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan berita geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Secara intraday, pergerakan emas lebih banyak dipengaruhi oleh fluktuasi dolar AS, dinamika harga minyak, serta perkembangan terbaru terkait hubungan AS–Iran dan stabilitas jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Di sisi lain, pasar energi menunjukkan tren yang jauh lebih kuat. Harga minyak mentah, baik Brent maupun WTI, mencatat kenaikan signifikan secara kumulatif. Brent melonjak sekitar 10,3%, sementara WTI menguat lebih dari 5%, mencerminkan meningkatnya premi risiko pasokan global. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan yang meningkat di sekitar Selat Hormuz, gangguan terhadap arus kapal tanker, serta ketidakpastian terkait hasil negosiasi geopolitik antara negara-negara kunci.

Selain faktor geopolitik, harga minyak juga didorong oleh fundamental yang mendukung, termasuk penurunan stok bensin dan distilat di Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar. Laporan insiden kapal serta indikasi penguatan kontrol Iran di kawasan strategis tersebut semakin mempertebal kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan. Walaupun sempat terjadi koreksi harga akibat munculnya harapan pembicaraan damai baru, pasar tetap sulit menghilangkan premi risiko secara penuh karena kondisi distribusi di Selat Hormuz masih terbatas dan rentan.

Secara keseluruhan, pasar komoditas saat ini berada dalam fase yang sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal. Emas bergerak dalam tekanan akibat dominasi dolar dan yield tinggi, meskipun tetap mendapat dukungan dari ketidakpastian global. Sementara itu, minyak menunjukkan kekuatan yang lebih konsisten karena risiko nyata terhadap pasokan energi dunia. Ke depan, fokus utama pelaku pasar akan tertuju pada perkembangan diplomasi AS–Iran, stabilitas jalur energi di Selat Hormuz, arah pergerakan dolar AS, serta implikasinya terhadap inflasi global dan kebijakan suku bunga The Fed.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.