Harga Emas Melemah di Tengah Ketegangan Hormuz dan Lonjakan Risiko Inflasi Global

Harga emas menunjukkan pelemahan moderat sekaligus mengakhiri tren penguatan selama empat pekan terakhir, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini secara langsung memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan inflasi dan mengubah ekspektasi kebijakan moneter global. Emas yang sebelumnya diuntungkan oleh permintaan safe haven kini mulai kehilangan momentumnya akibat kombinasi faktor geopolitik dan makroekonomi yang semakin kompleks.

Logam mulia tersebut bertahan di bawah level $4.700 per ounce pada akhir pekan, mencatatkan penurunan mingguan mendekati 3%. Penurunan ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang sebelumnya optimistis terhadap potensi deeskalasi konflik, namun kini berbalik menjadi kehati-hatian akibat eskalasi militer di jalur pelayaran strategis dunia. Instruksi Presiden Amerika Serikat untuk mengambil tindakan tegas terhadap kapal yang diduga menanam ranjau di Selat Hormuz mempertegas risiko konflik terbuka yang dapat mengganggu arus perdagangan global, khususnya minyak mentah.

Situasi semakin diperburuk oleh laporan intersepsi dua supertanker minyak yang mencoba menghindari pembatasan pelayaran menuju pelabuhan Iran. Di sisi lain, serangan terhadap setidaknya tiga kapal dalam pekan yang sama memperkuat persepsi bahwa keamanan jalur distribusi energi global berada dalam ancaman serius. Ketidakpastian ini menciptakan tekanan tambahan pada harga energi, yang secara historis memiliki korelasi kuat terhadap ekspektasi inflasi global.

Ketegangan yang terus berlanjut juga berdampak negatif terhadap jalur diplomasi antara kedua negara. Sejumlah pejabat menyebutkan bahwa peluang untuk melanjutkan perundingan tatap muka semakin menipis akibat retorika keras dan pendekatan agresif yang diambil oleh pihak Amerika Serikat. Meskipun sempat ada perpanjangan gencatan senjata, stabilitas jangka panjang tetap diragukan, sehingga pasar cenderung mengantisipasi skenario risiko yang lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan menjadi faktor utama yang mendorong ekspektasi inflasi tetap tinggi. Dalam kondisi seperti ini, bank sentral global cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang untuk pengetatan tambahan. Lingkungan suku bunga tinggi dikenal sebagai faktor negatif bagi emas, mengingat logam ini tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga lainnya. Hal inilah yang menjelaskan mengapa emas mengalami tekanan meskipun ketidakpastian global meningkat.

Pada perdagangan terbaru, harga emas spot tercatat turun tipis sebesar 0,1% ke level $4.690,98 per ounce. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang masih dalam fase konsolidasi sambil menilai arah kebijakan dan perkembangan geopolitik selanjutnya. Logam lainnya seperti perak juga mengalami penurunan serupa, sementara platinum dan palladium cenderung stabil. Indeks dolar AS menunjukkan pergerakan datar setelah sebelumnya menguat, memberikan tambahan tekanan pada harga emas karena penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri.

Dengan dinamika yang terus berkembang, arah harga emas ke depan akan sangat ditentukan oleh eskalasi konflik di Selat Hormuz, pergerakan harga energi, serta respons kebijakan moneter global. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan lanskap pasar yang kompleks, di mana emas tidak lagi bergerak semata sebagai aset lindung nilai, tetapi juga sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga dan tekanan inflasi yang berasal dari sektor energi.

Sumber : www.newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.