Indeks dolar Amerika Serikat kembali menguat dan berhasil naik di atas level 98 pada perdagangan Jumat, 8 Mei, melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven seiring pasar global kembali mengadopsi sikap risk-off moderat. Meski demikian, secara mingguan pergerakan dolar masih cenderung terbatas karena pelaku pasar menahan posisi menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang sangat dinantikan.
Penguatan dolar terjadi setelah muncul laporan bahwa tiga kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat yang melintasi Selat Hormuz berhasil mencegat serangan Iran dan melakukan serangan balasan. Insiden tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur distribusi energi global dari kawasan Teluk Persia, yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik dunia. Ketegangan di wilayah tersebut terus menjadi perhatian utama investor karena dapat memicu lonjakan volatilitas di pasar mata uang, energi, saham, hingga obligasi global.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata masih tetap berlaku, namun pasar melihat situasi di Hormuz masih menyimpan risiko besar. Investor khawatir konflik yang berkepanjangan dapat menghambat distribusi minyak mentah global dan meningkatkan tekanan inflasi internasional. Kondisi tersebut membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset lindung nilai, terutama ketika ketidakpastian geopolitik meningkat dalam waktu singkat.
Pemerintahan Trump juga dikabarkan masih menunggu respons resmi dari Iran terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dan upaya mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir 10 minggu. Beberapa laporan menyebutkan bahwa Teheran diperkirakan akan menyampaikan tanggapan melalui Pakistan dalam dua hari ke depan. Situasi ini membuat headline geopolitik tetap menjadi penggerak utama pasar dalam jangka pendek, khususnya bagi trader yang fokus pada pergerakan dolar AS, harga minyak, dan emas.
Di sisi lain, perhatian investor kini juga tertuju pada laporan tenaga kerja Amerika Serikat untuk periode April yang diperkirakan menjadi indikator penting arah kebijakan suku bunga Federal Reserve berikutnya. Konsensus pasar memperkirakan penambahan payroll sebesar 62.000 pekerjaan, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan 178.000 pada bulan Maret. Perlambatan tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum setelah sebelumnya tetap solid dalam beberapa bulan terakhir.
Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan tetap bertahan di level 4,3%, menandakan bahwa kondisi ketenagakerjaan masih relatif stabil meskipun laju perekrutan melambat. Investor akan mencermati detail laporan secara menyeluruh, termasuk pertumbuhan upah dan tingkat partisipasi tenaga kerja, karena data tersebut dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai tekanan inflasi domestik dan potensi langkah lanjutan The Fed terhadap suku bunga.
Jika data tenaga kerja dirilis lebih kuat dari ekspektasi, dolar AS berpotensi memperpanjang penguatannya karena pasar dapat kembali memperhitungkan peluang kebijakan moneter yang lebih ketat. Sebaliknya, jika data menunjukkan pelemahan signifikan, tekanan terhadap dolar dapat kembali muncul seiring meningkatnya spekulasi pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Meski dolar AS menguat pada perdagangan Jumat, indeks dolar secara keseluruhan diperkirakan menutup pekan ini dalam kondisi relatif stabil terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Pelaku pasar masih menunggu kombinasi sinyal dari perkembangan geopolitik Timur Tengah dan data ekonomi Amerika Serikat untuk menentukan arah berikutnya bagi kebijakan moneter, sentimen risiko global, serta prospek pergerakan mata uang utama dunia.
Pergerakan dolar ke depan diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik di Selat Hormuz dan dinamika ekonomi AS. Dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi, dolar AS masih mempertahankan statusnya sebagai aset safe haven utama, terutama ketika pasar menghadapi ancaman geopolitik dan potensi perlambatan ekonomi secara bersamaan.
Sumber : www.newsmaker.id
