Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah membahas proposal baru untuk mengakhiri konflik yang telah mengguncang pasar energi global dan meningkatkan tekanan politik terhadap Donald Trump. Upaya diplomatik ini muncul ketika harga energi yang melonjak mulai memengaruhi kondisi ekonomi domestik Amerika Serikat serta memperumit posisi politik menjelang pemilu paruh waktu. Sentimen pasar langsung merespons positif perkembangan tersebut, terlihat dari penguatan pasar saham global dan penurunan harga minyak mentah, dengan minyak AS kembali turun di bawah level US$100 per barel.
Menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Washington telah mengirimkan memorandum satu halaman kepada Iran melalui mediator Pakistan. Proposal itu disebut berisi rencana pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap serta pencabutan blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran. Sementara itu, negosiasi rinci terkait program nuklir Iran akan dibahas pada tahap berikutnya, menandakan bahwa fokus utama saat ini adalah meredakan krisis energi dan memulihkan stabilitas jalur perdagangan global.
Langkah diplomatik ini muncul setelah 48 jam yang menunjukkan dilema besar pemerintahan Trump dalam menghadapi dampak konflik. Keputusan Amerika Serikat untuk terlibat bersama Israel dalam serangan terhadap Iran sejak akhir Februari memang meningkatkan tekanan terhadap Teheran, tetapi juga memicu lonjakan harga minyak dan mengganggu rantai pasok energi dunia. Dalam perkembangan terbaru, Trump bahkan menghentikan sementara misi pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz, sebuah jalur vital yang menjadi pusat distribusi minyak dan gas global.
Urgensi penyelesaian konflik juga berkaitan erat dengan agenda geopolitik yang lebih luas. Pertemuan yang dijadwalkan antara Trump dan Xi Jinping dilaporkan sempat tertunda akibat situasi Timur Tengah. Di sisi domestik, meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap konflik mulai terlihat dalam survei politik, terutama ketika biaya hidup dan harga energi menjadi perhatian utama masyarakat Amerika.
Tekanan energi kini semakin nyata di tingkat konsumen. Harga bensin di Amerika Serikat telah mencapai US$4,50 per galon, level tertinggi sejak Juli 2022 menurut data American Automobile Association. Lonjakan ini menjadi tantangan langsung bagi janji Trump yang sebelumnya menyatakan harga bahan bakar akan turun drastis setelah perang berakhir. Kondisi tersebut juga memunculkan keraguan pasar mengenai seberapa cepat normalisasi Selat Hormuz dapat benar-benar memulihkan arus pasokan minyak global.
Iran diperkirakan akan memberikan respons terhadap proposal tersebut dalam dua hari ke depan melalui mediator Pakistan. Meski demikian, media pemerintah Iran mengindikasikan bahwa beberapa poin yang diajukan Amerika Serikat masih dianggap tidak realistis bagi kepemimpinan Teheran. Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa kesepakatan sudah dekat, namun hingga kini belum ada hasil konkret. Dalam wawancara dengan New York Post, ia bahkan mengakui bahwa pembicaraan tatap muka langsung mungkin masih “terlalu dini.”
Melalui media sosial, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat siap mengakhiri kampanye militernya dan mencabut blokade Hormuz apabila Iran menyetujui syarat-syarat yang telah dibahas. Namun, ia juga memperingatkan bahwa jika kesepakatan gagal tercapai, maka serangan militer dapat kembali dimulai. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi mulai terbuka, ancaman eskalasi tetap membayangi pasar global.
Di sisi lain, prospek kesepakatan justru memunculkan kekhawatiran di Israel. Pemerintahan Benjamin Netanyahu dilaporkan ingin mempertahankan tekanan penuh terhadap Iran hingga negara tersebut benar-benar melemah, termasuk penghentian program nuklir, rudal, dan jaringan milisi proksinya. Netanyahu disebut tengah berdiskusi dengan pejabat Amerika Serikat untuk memahami arah kebijakan Washington selanjutnya.
Ke depan, pasar global akan sangat fokus pada respons resmi Iran dan perkembangan akses pelayaran di Selat Hormuz. Jika negosiasi menunjukkan kemajuan nyata, tekanan harga energi dapat terus mereda dan mendukung pemulihan sentimen risiko global. Namun, kegagalan diplomasi berpotensi memicu kembali lonjakan harga minyak, memperburuk inflasi, dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional.
Sumber : www.newsmaker.id
